MalukuSBB,CahayaMediaTimur. com-Tulisan ini adalah suara hati dari jantung Pulau Seram, tepatnya dari Kecamatan Inamosol, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB).
Ini bukanlah laporan resmi yang dingin dan berjarak. Ini adalah jeritan pilu yang lahir dari lelah, dari harapan yang menggantung, dan dari ironi yang setiap hari kami telan bagai nasi basi yang harus kami telan setiap hari.
Di tengah gemuruh pembangunan Ibu Kota Nusantara yang megah, di tengah hiruk-pikuk kemajuan teknologi dan informasi yang tak terbendung, di usianya yang ke-80 tahun, kemerdekaan Indonesia rupanya belum sepenuhnya menjejakkan kaki di tanah kami.
“Jalanan di Inamosol bukan lagi sekadar rusak. Jalanan di sini adalah luka menganga yang membelah bumi dan hati kami”.
Bayangkan, Bupati SBB belum pernah sekalipun menginjakkan kaki di sini sejak dilantik setahun yang lalu. Ironi ini bukan sekadar soal protokoler, ini adalah pesan tak terucap bahwa keberadaan kami seolah tak terlihat di peta prioritas.
“Beliau lebih memilih langit Jakarta daripada debu tanahnya wilayahnya sendiri. Jika pemimpin saja enggan hadir, bagaimana mungkin pembangunan mau datang”.
Kami berbicara tentang jalan yang begitu tragisnya, yang hanya bisa dijangkau oleh kendaraan 4×4 dengan biaya selangit sekaligus risiko yang mencekik. Setiap tetes hujan yang turun, bukan menyirami tanaman, melainkan mengancam nyawa.
Video yang viral di media sosial tentang mobil yang hanyut terbawa banjir, bagi kami itu bukan berita. Itu adalah potret kehidupan sehari-hari. Itu adalah pemandangan biasa yang seharusnya tidak pernah biasa. Setiap kali musim hujan tiba, deru air bah adalah momok yang menunggu untuk menelan kendaraan, menghancurkan barang dagangan, dan menambah panjang daftar nestapa.
Saudaraku di pusat, di provinsi, di kabupaten yang hidupnya penuh bahagia, tahukah anda apa artinya memiliki hasil bumi melimpah tapi tak bisa dinikmati?
Tanah Inamosol ini subur. Damar kami meneteskan air mata emas, cengkeh dan pala kami merekah dengan aroma yang menggoda. Bila diolah dan diangkut dengan layak, hasil hutan dan perkebunan ini bisa bernilai miliaran rupiah. Ia bisa menjadi sumbangsih nyata bagi Pendapatan Asli Daerah (PAD), bisa menggerakkan roda ekonomi, bisa membuka lapangan kerja.
Tapi kenyataannya, hasil bumi yang kami jaga dengan keringat ini kerap kali berakhir busuk di pinggir jalan atau terpaksa dijual dengan harga yang sangat murah kepada tengkulak, karena biaya transportasi yang tinggi dan risiko jalan yang rusak telah “memakan” habis margin keuntungan. Sembilan dari sepuluh muatan, ongkos jalannya lebih mahal dari barangnya sendiri. Ini bukan ekonomi, ini adalah penghukuman.
Kami telah menjaga bumi ini, mengelola hutannya dengan kearifan lokal, dan menghasilkan komoditas yang menjadi denyut nadi perdagangan nusantara sejak zaman nenek moyang. Namun, imbalan apa yang kami terima? Keterisolasian. Infrastruktur yang bukan hanya tidak memadai, tapi juga mematikan harapan.
Kami tidak meminta istana di puncak bukit. Kami tidak meminta jalan berlapis emas. Yang Kami Minta adalah Perhatian Khusus. Perhatian dari Pemerintah Pusat untuk menatap peta Indonesia dan benar-benar melihat titik-titik hitam yang selama ini terlewat.
Jangan biarkan Pulau Seram, terutama wilayah pedalaman seperti Inamosol, menjadi museum kehidupan primitif di era serba maju. Bangunlah jalan yang layak. Bukan jalan untuk mobil dinas pejabat, tapi jalan untuk masa depan anak-anak kami, untuk harga jual keringat para petani, untuk konektivitas yang menyatukan kami dengan republik ini secara utuh.
Kami adalah bagian dari Indonesia. Kami adalah pemilik sah atas kemerdekaan ini. Jangan biarkan usia 80 tahun hanya menjadi angka, sementara di sudut negeri ini, masih ada warganya yang merasa hidup di masa kolonial karena sengsara oleh infrastruktur yang tiada.
Kami berharap, dari balik pegunungan Seram ini, suara kami didengar. Bukan sebagai keluhan, tapi sebagai pengingat. Bahwa pembangunan yang sejati adalah yang menjangkau mereka yang paling ujung. Bahwa keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia, tidak boleh berhenti di pesisir.
Inamosol menanti. Seram menanti. Sudah terlalu lama kami berbisik di dalam sunyi. Kini, dengan air mata dan harapan, kami berteriak, Lihatlah kami, sentuhlah kami, bangunlah bersama kami.






