TanahGoyang,CahayaMediaTimur.com-Peristiwa dugaan penyerangan terhadap pos polisi serta pembakaran satu unit kedai milik anggota Bhabinkamtibmas Desa Ariate masih terus didalami oleh pihak Polres Seram Bagian Barat (SBB). Hingga kini, penyidik masih mengumpulkan keterangan dari berbagai pihak guna mengungkap secara utuh rangkaian peristiwa serta pihak-pihak yang diduga terlibat.
Berdasarkan informasi yang beredar di tengah masyarakat, pada pekan lalu Polres SBB diketahui telah mengirimkan surat undangan kepada sejumlah nama yang diduga mengetahui ataupun memiliki keterkaitan dengan peristiwa tersebut untuk dimintai keterangan. Namun, sejumlah pihak yang dikabarkan menerima surat undangan itu disebut-sebut tidak memenuhi panggilan penyidik.
Tidak hadirnya beberapa pihak yang diundang kemudian memunculkan berbagai spekulasi di tengah masyarakat. Salah satu nama yang menjadi perhatian publik adalah seorang yang sebelumnya ramai diperbincangkan karena diduga berperan memobilisasi massa menggunakan kendaraan roda dua pada malam terjadinya insiden tersebut. Selain nama itu, beberapa orang lainnya juga dikabarkan menerima surat undangan, namun diduga tidak memenuhi panggilan untuk memberikan keterangan di Polres SBB.
Di tengah berkembangnya informasi tersebut, muncul dugaan adanya upaya pencegahan terhadap pihak-pihak yang dipanggil agar tidak memenuhi undangan penyidik. Dugaan tersebut mengarah kepada Kepala Dusun Tanah Goyang, Jusmin Papalia.
Menurut keterangan yang dihimpun dari sejumlah warga, pada Minggu malam pekan lalu Jusmin Papalia diduga terlihat mengadakan pertemuan bersama salah satu pihak yang namanya disebut masuk dalam daftar penerima surat undangan dari Polres SBB. Dalam pertemuan tersebut, menurut sumber warga, turut hadir beberapa orang lainnya, termasuk orang tua dari salah satu terduga yang disebut-sebut berperan memobilisasi massa.
Warga yang mengaku mengetahui pertemuan itu menyebutkan bahwa kegiatan tersebut diduga berlangsung sejak sekitar pukul 21.00 WIT ( 09:00 malam) hingga sekitar pukul 04:00 WIT( jam 04:00 subuh) dini hari. Pertemuan itu disebut baru berakhir setelah para peserta diduga mengetahui keberadaan seseorang yang melihat aktivitas mereka.
Keesokan harinya, sekitar pukul 16.00 WIT di salah satu bengkel, menurut keterangan warga, muncul pernyataan dari salah seorang yang diduga menerima surat undangan. Warga menuturkan bahwa orang tersebut diduga mengatakan, “Kami tidak akan menghadap karena semalam kepala dusun sudah bilang tidak usah menghadap.”
Pernyataan yang diklaim disampaikan oleh salah satu terduga tersebut kemudian menyebar luas di tengah masyarakat dan memunculkan dugaan bahwa terdapat upaya untuk menghalangi proses pemberian keterangan kepada penyidik.
Sejumlah warga menilai dugaan pencegahan yang dikaitkan dengan Jusmin Papalia diduga dilakukan karena adanya kekhawatiran apabila seluruh rangkaian peristiwa yang terjadi pada malam insiden tersebut terungkap melalui proses pemeriksaan di Polres SBB. Meski demikian, hingga saat ini belum terdapat keterangan resmi dari Jusmin Papalia mengenai dugaan tersebut.
Di sisi lain, Polres SBB dikabarkan masih terus melakukan pendalaman terhadap seluruh rangkaian peristiwa, termasuk menelusuri kemungkinan adanya pihak yang diduga berperan sebagai aktor intelektual maupun pihak-pihak lain yang diduga memiliki keterkaitan dengan dugaan penyerangan terhadap pos polisi dan pembakaran kedai milik anggota Bhabinkamtibmas Desa Ariate.
Seluruh dugaan yang berkembang di tengah masyarakat tersebut masih memerlukan pembuktian melalui proses penyelidikan dan penyidikan sesuai ketentuan hukum yang berlaku.




