Terkait Penolokan Desa Waesamu,Pemerintah Desa Nurue Pembangunan Batalyon Akan Rasakan Oleh Seluruh Masyarakat Kairatu Barat

oleh -1 views

Nurue,CahayaMediaTimur.com-Pemerintah Desa Nurue, Kecamatan Kairatu Barat, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), menegaskan, penolakan dari Desa Waesamu terhadap rencana pembangunan Batalyon TNI XV/Pattimura tidak boleh mengganggu proyek di wilayah Desa Nurue.

Hal ini disampaikan oleh Kepala Desa Nurue, Simon Matital, saat ditemui awak media di Nurue, pada Kamis (25/9/2025). Matital menekankan bahwa dampak positif pembangunan batalyon tersebut akan dirasakan oleh seluruh masyarakat Kairatu Barat.

Simon Matital angkat bicara terkait surat penolakan yang dilayangkan oleh warga Desa Waesamu terhadap pembangunan Batalyon TNI XV/Pattimura di Desa Nurue.

Menurut dia, Pemerintah Nurue menilai apa yang dilakukan oleh warga Waesamu adalah sah-sah saja jika itu dianggap baik bagi mereka. Namun, ia menegaskan batasannya.

 

“Apa yang dilakukan oleh Desa Waesamu untuk menolak keberadaan pembangunan Batalyon TNI di Desa Nurue, terserah mereka dan lakukan di desa mereka, tetapi jangan mengganggu pembangunan yang akan berlangsung di Desa Nurue.” Tegas Matital.

Matital mengatakan, manfaat dari pembangunan Batalyon ini akan sangat dirasakan oleh seluruh masyarakat di Kairatu Barat, bukan hanya di Desa Nurue, tetapi juga desa-desa lainnya.

Lebih lanjut, Simon Matital menyoroti aksi yang dilakukan Warga Desa Waesamu yang sampai mengeluarkan surat penolakan kepada Korem XV/Pattimura.

Menurutnya, hal ini memicu Negeri Kaibobo mengambil sikap untuk melakukan pemalangan jalan karena adanya campur tangan negeri lain, yakni Negeri Eti, terhadap Tala Batai (tanah ulayat).

Kepala Desa Nurue menilai, keterlibatan Pemerintah Negeri Eti adalah sesuatu yang salah. Ia menjelaskan bahwa Waesamu tidak memiliki hubungan langsung dengan Eti terkait wilayah sengketa.

“Semua itu harus melalui pembicaraan dengan Negeri Kaibobo selaku pemilik hak ulayat dan petuanan di wilayah Desa Waesamu, sehingga tidak terjadi hal-hal seperti ini,” kata Matital.

Ia menambahkan, jika campur tangan pihak lain memang terjadi, maka wajar jika Negeri Kaibobo merasa tidak puas dan akhirnya melakukan pemalangan jalan. Namun, ia berharap agar aksi-aksi pemalangan jalan tersebut tidak perlu ada lagi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.