Piru,CahayaMediaTimur.com-Tokoh muda Seram Bagian Barat (SBB), Mozes Rutumalessy, menegaskan ancaman penutupan permanen PT. Spice Island Maluku (SIM) diduga hanyalah drama belaka. Keyakinan itu terbukti dengan dua hal: aksi demonstrasi karyawan yang justru digelar di Kantor Bupati SBB, serta statemen pihak perusahaan yang menyatakan 90 persen operasional PT. SIM akan tetap berjalan.
Demo yang berlangsung pada Jumat (26/9/2025) memunculkan tanda tanya publik. Sebab, keputusan penutupan sebelumnya datang dari pihak perusahaan, namun massa memilih melayangkan protes ke Bupati SBB.
Bupati SBB, Asri Arman, akhirnya menemui massa dan menggelar pertemuan di ruang rapat kantor bupati. Dalam forum itu, perwakilan aksi, Melky Sedek Tuhenay, menegaskan bahwa tuntutan mereka hanya satu: PT. SIM tetap beroperasi di SBB.
Bupati pun menegaskan pemerintah daerah sejalan dengan aspirasi tersebut. “Pemda SBB bersama masyarakat sepakat PT. SIM harus terus berjalan karena menyangkut kehidupan ekonomi masyarakat,” ujarnya. Ia menambahkan, pihak perusahaan bersama perwakilan karyawan harus bertemu Gubernur Maluku pada Sabtu (27/9/2025) untuk mencari solusi lebih lanjut.
Sementara itu, perwakilan PT. SIM, Pak Eko, mengakui polemik ini berawal dari sengketa lahan 15 hektare di wilayah Kawa. Meski demikian, ia menegaskan perusahaan tidak sepenuhnya akan angkat kaki. “Pada intinya, PT. SIM 90 persen akan tetap beroperasi. Hasil pertemuan ini akan kami laporkan ke pimpinan,” jelasnya.
Menanggapi dinamika ini, Mozes Rutumalessy mempertegas bahwa sejak awal dirinya sudah melihat ancaman penutupan hanyalah strategi untuk menekan.
“Sejak awal saya sudah katakan, ancaman penutupan itu tidak lebih dari gertakan kosong. Faktanya, yang mereka sebut ‘tutup’ malah diikuti demo ke Bupati, bukan ke perusahaan. Itu sudah cukup membuktikan bahwa ancaman ini diduga hanya drama untuk memainkan opini publik dan menekan pemerintah,” tegas Mozes.
Ia bahkan menyebut penutupan permanen sebagai bentuk dugaan manipulasi. “Kalau dari mulut perusahaan sendiri mengakui 90 persen tetap beroperasi, maka jelas wacana penutupan itu dusta belaka. Jangan lagi rakyat dijadikan alat tawar-menawar kepentingan segelintir pihak,” tandasnya.
Mozes juga mendesak pemerintah daerah agar tidak goyah menghadapi manuver perusahaan. “Investasi memang penting, tapi kepentingan rakyat jauh lebih utama. Pemerintah harus berdiri tegak di pihak masyarakat, bukan membiarkan rakyat dijadikan tameng. Pertemuan dengan Gubernur Maluku harus menghasilkan solusi yang konkret, tegas, dan berpihak pada kepentingan rakyat SBB,” pungkasnya.
Menurutnya, Fenomena demo karyawan PT. SIM ke Bupati SBB ini pun semakin menambah daftar teka-teki hubungan perusahaan dengan masyarakat. “Publik kini menanti langkah nyata pemerintah bersama Gubernur Maluku untuk memastikan investasi tetap berjalan tanpa mengorbankan kepentingan rakyat.” tutupnya. (Tim)




