Ambon,CahayaMediaTimur.com-
Dosen Pengampu:
Dr. Jenny K. Matitaputty, M.Pd
Mata Kuliah:
Jurnalisme dan Kepariwisataan Sejarah
Disusun oleh Kelompok 5:
Kezia Bitalessy
Lenda Talapessy
Sarah Soulissa
Siti Halis Patty
Program Studi Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
Berdiri kokoh di wilayah Hila,Jazirah Leihitu,Benteng Amsterdam menjadi salah satu peninggalan sejarah kolonial yang menyimpan kisah panjang perjuangan,perdagangan rempah, hingga bencana alam di Maluku.
Benteng bersejarah ini pertama kali dibangun oleh bangsa Portugis pada tahun 1512 di bawah pimpinan Francisco Serrão.Awalnya, bangunan tersebut difungsikan sebagai loji perdagangan rempah-rempah yang kala itu menjadi komoditas paling berharga di dunia.
Namun,setelah bangsa Belanda berhasil menguasai Pulau Ambon pada tahun 1605, loji tersebut diambil alih dan diubah menjadi kubu pertahanan militer.Perubahan fungsi ini tidak terlepas dari sengitnya perlawanan rakyat Hitu terhadap penjajahan Belanda yang dipimpin oleh Kapitan Kakiali pada periode 1633–1654.
Pada masa kejayaan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC),benteng ini terus diperkuat oleh pemerintah kolonial Belanda.Gubernur Jenderal Johan Ottens mulai mengubah bangunan menjadi benteng pertahanan pada tahun 1637.Pembangunan kemudian diperbesar oleh Gerrard Demmer pada 1642,dilanjutkan oleh Anthony van Diemen,hingga akhirnya diselesaikan oleh Arnold de Vlaming van Oudshoorn pada rentang 1649–1656 dan diberi nama Benteng Amsterdam.
Secara arsitektur,benteng ini memiliki bentuk menyerupai rumah besar khas Eropa sehingga Belanda menyebutnya Blok Huis.Bangunan terdiri atas tiga lantai,dengan lantai pertama berbahan bata merah yang digunakan sebagai tempat tinggal serdadu.Sementara lantai kedua dan ketiga terbuat dari kayu besi, masing-masing difungsikan sebagai ruang pertemuan perwira dan pos pengamatan.Di bagian atas terdapat menara pengintai yang digunakan untuk memantau wilayah sekitar.
Memasuki awal abad ke-20,benteng ini ditinggalkan oleh Belanda dalam kondisi rusak dan ditumbuhi pohon beringin besar.Pemerintah Indonesia melalui Departemen Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Maluku kemudian melakukan pemugaran sejak Juli 1991 hingga Maret 1994.Proses restorasi dilakukan berdasarkan gambar dalam buku Beschrijving van Amboina karya François Valentijn tahun 1772.
Selain menjadi saksi sejarah kolonial, Benteng Amsterdam juga pernah dihuni oleh Georg Eberhard Rumphius,seorang naturalis dan ahli sejarah asal Jerman yang terkenal karena penelitiannya mengenai flora dan fauna Maluku. Rumphius menulis berbagai karya penting seperti Herbarium Amboinense dan Ambonsche Landbeschrijving yang hingga kini menjadi referensi sejarah alam Maluku.
Tidak hanya itu,Rumphius juga mencatat salah satu bencana besar yang pernah melanda Maluku,yakni gempa bumi dan tsunami dahsyat yang menghancurkan wilayah pesisir utara Pulau Ambon serta bagian selatan Pulau Seram.Catatan tersebut dituangkan dalam bukunya yang berjudul Waerachtigh Verhael Van De Schrickelijck Aerdbevinge.
Kini,Benteng Amsterdam tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah,tetapi juga simbol perjalanan panjang Maluku sebagai pusat perdagangan dunia dan daerah yang kaya akan warisan budaya serta sejarah perjuangan masyarakatnya.
