Ambon,CahayaMediaTimur.com-Menteri Koordinasi Bidang Pangan Republik Indonesia (RI), Dr. (H.C) Zulkifli Hasan, S.E, M.M., memberikan kuliah umum di Universitas Pattimura (Unpatti), pada Rabu (2/9/2026), di Aula Rektorat.
Adapun dalam kuliah Umum tersebut Menteri Zulkifli Hasan memberikan materi pengembangan kampung nelayan, pengembangan blue carbon (pemanfaatan ekosistem guna mitigasi perubahan iklim sekaligus menghasilkan nilai ekonomi), dan persoalan lingkungan, terutama sampah.
Zulkifli memaparkan 4 fokus utama sektor kelautan dan lingkungan yaitu pertama, Pengembangan Ekonomi Karbon Laut (Blue Carbon). Pemerintah saat ini melalui Badan Pengelola Dana Lingkungan Hidup (BPDLH) mengelola alokasi dana besar mencapai Rp22 triliun untuk sektor karbon biru. Namun, implementasinya di tingkat akar rumput memerlukan pendampingan ilmiah dan riset yang produktif agar dapat diakses secara efektif melalui kolaborasi bersama perguruan tinggi, ujarnya.
Kemudian yang kedua, Pemberdayaan Desa Tematik Mandiri Pangan. Pengembangan kemandirian pangan di tiap-tiap desa akan diarahkan melalui pembentukan desa tematik, baik berbasis sektor pariwisata, perikanan, maupun pertanian, yang memerlukan kajian dan pendampingan dari civitas akademika.Dan ketiga, Inovasi Teknologi Penanganan Sampah dan Lingkungan. Zulkifli Hasan menyoroti bahaya mikroplastik dan pentingnya pengelolaan sampah secara terintegrasi. Pemilahan sampah organik dan anorganik memerlukan dukungan teknologi tepat guna dari kampus. Sampah organik dapat diolah menjadi pupuk menggunakan alat sederhana hasil riset, sementara sampah plastik dapat dikonversi menjadi material ubin atau Refuse-Derived Fuel (RDF).
Lanjut keempat, Integrasi Tri Dharma Perguruan Tinggi dengan Kebijakan Negara. Kompleksitas pembangunan nasional tidak dapat berjalan sendiri tanpa keterlibatan institusi pendidikan tinggi. Sinergi kampus, pemerintah, dan swasta menjadi kunci mutlak dalam mengakselerasi pencapaian target-target strategis pemerintah pusat di daerah.
Ia juga mengungkapkan perbedaan nilai tukar nelayan yang saat ini berada di angka 103, tertinggal dibanding petani padi yang telah menyentuh angka 127. Pemerintah Pusat menargetkan nilai tukar nelayan dapat terdongkrak naik hingga mencapai 120 pada tahun depan melalui berbagai intervensi program konkret.
Dikatakan, Perintah Bapak Presiden, tahun depan nilainya harus naik menjadi 120. Kita kembangkan program Kampung Nelayan yang dilengkapi infrastruktur pendukung seperti Tempat Pelelangan Ikan (TPI), cold storage, Stasiun Pengisian Bahan Bakar Nelayan (SPBN), bengkel, hingga koperasi. Tentu program ini butuh kerja sama erat dengan kampus, terutama Universitas Pattimura, mengingat Maluku dan kawasan 3T lainnya adalah pusat perikanan nasional,” ujarnya kepada wartawan usai memberikan kuliah umum.
Turut hadir dalam kuliah umum, Rektor Unpatti, Prof. Dr. Fredy Leiwakabessy, M.Pd, para Wakil Rektor, Deputi Bidang Koordinasi Keterjangkauan dan Keamanan Pangan, Dr. Ir. Nani Hendiarti, M.Sc., Wakil Ketua Komisi VI DPR RI, Saiful H. Purnomo, S.Sos., Anggota Komisi IX DPR RI, Desy Ratnasari, serta mahasiswa.
