Langgur,CahayaMediaTimur.com-Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tual terus memperkuat program pembinaan kemandirian bagi Warga Binaan. Salah satu fokus utama saat ini adalah pengembangan produk unggulan berupa ikat pinggang yang terbuat dari kayu arang (kayu hitam), sebuah kerajinan khas yang memiliki nilai estetika dan jual yang tinggi di pasaran, Jumat (27/02).
Kepala Lapas (Kalapas) Kelas IIB Tual, Nurchalis Nur, menyatakan bahwa pemilihan kayu arang sebagai bahan baku utama bukan tanpa alasan. Selain karena ketersediaan bahan baku lokal yang berkualitas, produk ini memiliki daya tarik eksklusif bagi kolektor aksesori.
“Kami melihat potensi besar pada kerajinan kayu arang ini. Melalui tangan terampil warga binaan, kayu yang awalnya bongkahan diubah menjadi ikat pinggang elegan. Fokus kami adalah memastikan produk ini tidak hanya menjadi pajangan, tapi memiliki standar kualitas yang mampu bersaing di pasar luas,” ujar Nurchalis.
Senada dengan hal tersebut, Kepala Seksi Binadik dan Giatja (Kasi Binadik), Keneth Huwae, menjelaskan bahwa proses produksi dilakukan dengan pengawasan ketat untuk menjaga mutu. Warga binaan diberikan pelatihan khusus mulai dari teknik pemotongan, pengamplasan halus, hingga perakitan kepala gesper.
“Pengerjaan ikat pinggang ini membutuhkan ketelitian tinggi agar tekstur alami kayu arang tetap menonjol namun tetap nyaman digunakan. Kami terus memfasilitasi sarana pengerjaan dan mendorong para warga binaan untuk terus berinovasi dalam desain agar produk unggulan Lapas Tual ini semakin dikenal masyarakat,” jelasnya.
Saat ini, produk ikat pinggang kayu arang karya warga binaan telah mulai dipasarkan secara terbatas dan sering menjadi buah tangan favorit bagi tamu yang berkunjung ke Lapas. Program ini diharapkan dapat membekali warga binaan dengan keahlian konkret serta modal keterampilan saat mereka kembali ke masyarakat nantinya.





