JEMBER,CahayaMediaTimur.com-Festival Egrang ke -13 di adakan oleh Tanoker Ledokombo,Kabupaten Jember.
Di Indonesia, permainan tradisi Egrang dikenal dengan nama yang berbeda di berbagai tempat. Dimana penamaannya sesuai bahasa lokal masing-masing. Misalnya,di Madura egrang dikenal dengan nama “Tonjhak”, di Lampung dengan nama “Terompah Pancung”, di Sumatera Selatan “Tengkak-tengkak”, di Jawa Tengah “Jangkungan” dan “Batungkau” di Kalimantan Selatan, serta nama lainnya di tempat yang lain.
“Egrang adalah permainan anak-anak dari bambu yang dipotong sedemikian rupa sehingga bisa dinaiki dan cara bermainnya diturunkan secara praktis, kemudian filosofinya disampaikan secara lisan dari generasi ke generasi.
Permainan egrang juga dikenal di berbagai tempat di dunia. Di Jepang dikenal dengan nama “Takeuma”. Di sebuah desa di Perancis egrangnya tanpa pegangan. “Dan hal itu menjadi ketrampilan yang harus dimiliki warga setempat untuk menggembala domba. Di Belgia salah satu desanya mempunyai kelompok egrang (stilwalker Belgium grup) yang turun temurun sejak perang dunia pertama terus dilestarikan hingga sekarang. Di Afrika ada satu suku yang menggunakan egrang untuk menghindari bahaya binatang buas dan ular beracun. Di beberapa kota di Tiongkok sering diadakan festival rakyat dengan peserta anak-anak, orang muda dan orang tua yang berpartisipasi dalam parade untuk merayakan imlek naik egrang tanpa pegangan dengan berbagai ukuran. Uniknya juga mereka bisa melakukan gerakan akrobatik.
Di era teknologi informasi ini ,egrang juga dikenal melalui sosial media (platform facebook), salah satunya grup “Stiltfun” yang aktif mempromosikan permainan egrang kaki (tanpa pegangan) selain Tanoker.
Sekitar satu dekade terakhir ini perhatian terhadap permainan egrang telah menunjukkan peningkatan yang luar biasa di berbagai tempat di Indonesia, yang juga terjadi di berbagai belahan dunia. Pemerintah Indonesia pun melalui Kementerian Pemuda dan Olahraga telah menunjukkan perhatian terhadap permainan tradisi ini dengan menerbitkan buku tentang permainan tradisi dan mengharuskan pembentukan lembaga yang mendukung upaya-upaya pelestarian permainan tradisi ini mulai tingkat pusat, propinsi hingga kabupaten.”Sementara Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI juga menjadikan permainan tradisi ini salah satu dari sepuluh obyek pemajuan kebudayaan yang tercantum dalam Undang-undang No 5 tahun 2017 tentang Pemajuan Kebudayaan.
Adanya perhatian pemerintah terhadap perkembangan permainan tradisi telah ikut mendorong minat berbagai kelembagaan pendidikan untuk memasukkannya dalam kegiatan sekolah. Pemerintah pusat secara rutin setiap tahun mengalokasikan anggaran ke sejumlah sekolah untuk melaksanakan Gerakan Seniman Masuk Sekolah (GSMS), walaupun dalam pelaksanaannya tidak mudah, belum bisa merata ke seluruh kelembagaan pendidikan di Indonesia.
Dalam kerangka pemajuan permainan tradisi sebagai salah satu obyek pemajuan kebudayaan yang dicanangkan pemerintah itu Komunitas Tanoker Ledokombo telah sejak lama mendedikasikan upaya untuk memajukan permainan tradisi khususnya permainan egrang.
Egrang telah dimodifikasi oleh anak-anak Tanoker Ledokombo menjadi tarian dan menjadi permainan yang banyak diminati oleh anak-anak siswa-siswi di lingkungan sekolah tingkat dasar dan menengah pertama. Tarian egrang telah menjadi permainan yang menghibur, entertain.
Modifikasi permainan egrang menjadi tarian egrang oleh anak-anak Tanoker Ledokombo telah memberikan perubahan yang luar biasa di wilayah Kecamatan Ledokombo. Dengan tarian egrang yang dipopulerkan anak-anak Tanoker Ledokombo itu, kawasan ini menjadi terkenal sebagai destinasi wisata permainan tradisi di kabupaten Jember, dikenal dengan even tahunan festival egrangnya, yang sudah dilakukan sejak tahun 2010. Hanya sempat vakum ketika terjadi wabah covid.
Komunitas ini juga dikenal dengan adanya kelompok-kelompok kuliner, kelompok yang memproduksi kerajinan tangan, homestay, paket wisata petualangan kacong dan genduk ke 7 destinasi wisata di kawasan ini. Kepopuleran permainan tradisi yang dibuat oleh anak-anak telah mendorong kebijakan kabupaten layak anak dan desa layak anak, KLA dan DLA di Jember.
Pada tahun 2024 Tanoker Ledokombo telah bekerja sama dengan PLN peduli, Dinas Pendidikan kabupaten Jember dan berbagai pihak, juga beberapa sekolah tingkat dasar dan sekolah tingkat menengah pertama untuk memasukkan permainan tradisi (tari) egrang menjadi bagian dari modul ajaran kurikulum di sekolah, sebagai kegiatan ekstrakurikuler di hari Sabtu yang menjadi hari pembiasaan permainan tradisi yang masuk ke dalam kearifan lokal dalam P5, dan juga menjadi mata pelajaran muatan lokal.
Untuk mendukung modul ajar kurikulum yang telah dipraktikkan oleh sekolah-sekolah, mulai tahun 2024 kemarin festival egrang yang selama ini telah dilakukan setiap tahun diubah menjadi arena gelar karya siswa/sekolah dalam kreasi tarian egrang, yang dalam pelaksanaannya akan bekerja sama dengan semua pihak untuk mendapatkan dukungan, dari pemerintah kabupaten Jember terutama sDinas Pendidikan, Dinas Pariwisata dan Budaya, Muspika Kecamatan Ledokombo, pemerintah desa di Kecamatan Ledokombo, 12 Sekolah prototype (6 sekolah tingkat dasar dan 6 sekolah menengah pertama), program PLN Peduli dan berbagai pihak terkait lainnya. Kerjasama ini sudah dilaksanakan sejak tahun 2024.
Di tahun 2025 ini Festival Egrang akan dilaksanakan kembali sebagai Arena Gelar Karya Siswa permainan tradisi tari egrang. Festival ini kembali melibatkan 12 sekolah prototipe yang telah berpartisipasi pada festival egrang 2024 sebelumnya dan menambahkan 8 sekolah lainnya yang berminat.
Dengan hari yang berdekatan, Festival Egrang juga merayakan Hari Anak Nasional yang jatuh pada tanggal 23 Juli kemarin, yakni hari yang memastikan anak anak mendapatkan hak untuk bahagia, bermain, hak hidup layak, hak kesehatan, hak pendidikan, dan lain-lain. Dan hak untuk berkarya, berekspresi, dan merayakannya sebagaimana festival ini bermuatan lokal.
Festival Egrang ke-13 bertema “Memuliakan Bambu untuk Perdamaian”. Tema ini dipilih karena peran pohon bambu dalam kehidupan di bumi yang multi fungsi. Filosofi Bambu mengajarkan pada kita tentang keteguhan, fleksibilitas, kerendahan hati, dan kebersamaan. Juga adaptasi, pertumbuhan, dan keseimbangan dalam hidup.
Bambu adalah tumbuhan yang lentur namun kuat dan tidak mudah patah. Ini mengajarkan pada kita untuk fleksibel dan teguh tidak mudah menyerah. Bambu tumbuh tinggi tapi akan merundukkan ujung batangnya. Ini mengajarkan untuk selalu bersikap rendah hati dan tidak sombong. Akar bambu yang serabut dikenal kuat dalam menopang batangnya. Ini mengajarkan bahwa hal sederhana dan kecil dapat menjaga keseimbangan dalam kehidupan. Bambu tumbuh banyak batang dalam satu rumpun. Ini mengajarkan pentingnya kebersamaan dan gotong royong. Bambu memiliki kemampuan untuk tumbuh di berbagai kondisi lingkungan. Ini mengajarkan untuk terus belajar dan beradaptasi. Bambu menjadi simbol ketegasan dan ketulusan di China, menjadi simbol persahabatan di India, menjadi pedoman hidup yang menggambarkan karakter di Jawa .
Dan manfaat bambu sangat bermacam-macam, mulai dari meningkatkan volume air dalam tanah, mencegah erosi, menyerap karbon dioksida dengan baik, bahan baku industri, untuk bahan arang bambu, untuk konstruksi bangunan, bahan makanan, obat-obatan, untuk produk rumah tangga, kesenian alat musik dan budaya, antara lain untuk peralatan permainan tradisi seperti egrang, fashion dan wisata. Dan pada festival egrang ke-13 akan ada aneka kegiatan selain parade defile tarian egrang, yakni parade 10 layang-layang raksasa bermotif egrang yang akan diterbangkan dari tengah lapangan kecamatan, pameran aneka produk bambu, parade obor bambu, yang pembukaannyapun dengan pemukulan alat musik tradisi kentongan. Plus arena festival akan dihiasi instalasi bambu di berbagai sudut.
Festival Egrang ke 13 ini memiliki beberapa tujuan, yaitu; terwujudnya partisipasi generasi muda dalam merevitalisasi permainan tradisi egrang melalui kegiatan modul ajar kurikulum sekolah di wilayah Kabupaten Jember; terfasilitasinya peningkatan kapasitas pengetahuan koreografi guru kesenian sekolah prototipe melalui pelatihan dan praktik berkreasi koreografi tarian egrang yang ditampilkan; tersedianya arena gelar karya siswa tahunan dalam bentuk festival egrang yang akan diikuti oleh lembaga pendidikan yang telah mengembangkan kegiatan permainan tradisi tari egrang di sekolahnya. Dan diharapkan dengan festival ini akan terbangun penguatan jaringan antar lembaga sekolah di Jember, terutama sekolah yang berminat pada pengembangan permainan tradisi egrang; tertanam semangat cinta tanah air di kalangan anak- anak melalui permainan tradisi tari egrang; tersedia arena untuk menampilkan pameran aneka produk dari bahan bambu pada acara festival egrang.
Adapun output dari festival, Kabupaten Jember memiliki arena gelar karya siswa permainan tradisi tarian egrang dalam bentuk festival egrang tahunan yang dikelola oleh Komunitas Tanoker Ledokombo; sekolah prototipe yang menjadi mitra Tanoker Ledokombo mendapatkan tambahan modul ajar permainan tradisi tarian egrang yang dikembangkan oleh Tanoker; guru pendamping untuk pengembangan permainan tradisi tarian egrang/kearifan lokal mendapatkan peluang untuk meningkatkan kapasitas pengetahuannya terkait dengan permainan tradisi; terbangun jaringan antar sekolah yang memiliki kepedulian terhadap pemajuan obyek kebudayaan khususnya permainan tradisi; kelompok UMKM aneka produk bambu dapat mempromosikan karyanya pada acara festival egrang. Sementara outcomenya permainan tradisi tarian egrang masuk modul ajar di sekolah prototipe terpilih yang berpartisipasi dalam festival egrang ke-13; jumlah guru pendamping permainan tradisi tari egrang mendapatkan pengetahuan baru cara membuat koreografi tarian egrang untuk praktek gelar karya siswa; festival egrang tahunan ke-13 Tanoker Ledokombo sebagai arena gelar karya siswa terlaksana dengan baik dan berkelanjutan dengan diikuti sekolah-sekolah prototipe yang peduli pada perkembangan permainan tradisi; dukungan partisipasi untuk pelaksanaan festival egrang sebagai arena gelar karya siswa dari sekolah, komunitas, tokoh masyarakat, perwakilan pemerintah terkait, terutama dari dinas pariwisata dan kebudayaan, dinas pendidikan kabupaten Jember meningkat; kegiatan ekonomi masyarakat dan kegiatan transaksi UMKM kuliner, produk kerajinan dan homestay di Kecamatan Ledokombo akan hidup.
Festival yang akan digelar pada hari Sabtu,( 26/7/2025) ini bertempat di desa Sumberlesung, Kecamatan Ledokombo, Kabupaten Jember dengan konsep fasilitasi arena pertunjukan gelar karya siswa dalam bentuk defile tarian egrang yang bekerja sama dengan 20 sekolah tingkat dasar (SD) dan tingkat menengah pertama (SMP) di wilayah Kabupaten Jember, yang mana setiap defile tari dari perwakilan sekolah akan mengikuti parade sepanjang 0.5 km dari Balai desa Sumberlesung dengan berjalan sambil menari menuju alun-alun kecamatan Ledokombo. Nanti di depan jalan kecamatan Ledokombo (finish), tim defile akan melakukan atraksi tarian egrang di depan para tamu undangan. Di sekitar lapangan kecamatan Ledokombo juga akan disediakan lapak untuk kuliner lokal dan UMKM produk kerajinan. Di aula pendopo kecamatan Ledokombo akan dilaksanakan pameran kreasi terkait sejarah permainan tradisi, modul ajar permainan tradisi dari beberapa sekolah dan pemutaran video-video permainan tradisi. Lalu peluncuran 10 layang-layang raksasa bermotif egrang.
Menjelang malam ada parade obor dan pada acara pembukaan akan ada pemukulan alat musik tradisi kentongan secara massal. Sementara sehari sebelum hari-H yakni di hari Jumat 25 Juli 2025 akan diadakan workshop tentang pentingnya memuliakan bambu melalui permainan tradisi untuk perdamaian. Dibuka dengan sharing session tentang “Wisata Berkelanjutan” bersama Resik ID Jember. Dilanjutkan dengan workshop.
“Mengenal Permainan Tradisi dan Wisata Budaya di 2 Negara, Turki dan Aljazair” bersama AIESEC Unej dan kak Mokhsa. Registrasi kedua acara ini pada jam 08.00 bbwi. Bersama dengan itu juga digelar bermacam lomba seperti mewarnai untuk siswa Taman Kanak-kanak, lomba manusia lumpur, produk kreatif dari bahan bambu.
Festival akan dimulai sejak pukul 08.00 sampai 16.00 dengan diawali persiapan, penutupan jalan, registrasi, pembukaan, flashmob, sambutan Pembina Tanoker, sambutan perwakilan Pemkab Jember, pidato Wamen UMKN RI, parade, penerbangan layang-layang, pengundian doorprize dan penutupan.
Selain Wamen ,UMKN Helvi Y Moraza hadir juga dalam festival Wamen PPPA RI Veronica Tan. Sementara dari universitas universitas manca, antara lain; Wicomico County Board of Education Amerika Serikat, Centre College Vietnan, Dong-A University Korea Selatan, University of Gajah Mada Indonesia, ImagineLaw Pilipina, University of Mindanao Pilipina, University of Wisconsin Amerika Serikat, University of Philippines Pilipina, San Diego State University Amerika Serikat, University of Amsterdam Belanda, River Valley Irregulars Singapura, Takshashila Institution India, plus Universitas Jember, Universitas Sumatera Utara dan Universitas Trunojoyo, mereka mengirimkan ilmuwan ilmuwan dan tokoh tokoh mahasiswanya yang berasal dari 12 negara untuk memeriahkan.
Dalam arena festival juga disediakan cek kesehatan gratis dari Puskesmas. Dan untuk semakin menambah kelengkapan kemeriahan tersedia bazar produk kerajinan ramah lingkungan dan kuliner lokal yang sehat, unik dan enak.