Ambon,CahayaMediaTimur.com –
Dosen Pengampu:
Dr. Jenny K. Matitaputty, M.Pd
Mata Kuliah:
Jurnalisme dan Kepariwisataan Sejarah
Disusun oleh Kelompok:
Dika Sababalat
Nur Saida
Chelsea Tomhissa
Soleman Lokwatty
Yuliana Solissa
Program Studi Pendidikan Sejarah
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Pattimura Ambon
Gereja Tua Imanuel yang terletak di Negeri Hila,Kecamatan Leihitu, Kabupaten Maluku Tengah, merupakan salah satu bangunan bersejarah yang menjadi saksi perkembangan agama Kristen di Maluku.
Keberadaan gereja ini tidak hanya memiliki nilai religius, tetapi juga menyimpan jejak panjang perjalanan sejarah kolonial dan penyebaran agama Kristen di wilayah kepulauan rempah-rempah.
Sejarah Gereja Tua Imanuel bermula pada abad ke-16 ketika bangsa Portugis datang ke Maluku untuk melakukan perdagangan rempah-rempah.
Selain berdagang, Portugis juga membawa misi penyebaran agama Kristen dan membangun sejumlah tempat ibadah bagi masyarakat setempat. Dari proses inilah Gereja Tua Imanuel kemudian dikenal sebagai salah satu bukti awal masuknya agama Kristen di Maluku.
Setelah kekuasaan Portugis berakhir, wilayah Maluku beralih ke tangan Belanda melalui VOC. Pada masa pemerintahan Belanda, gereja ini tetap digunakan sebagai tempat ibadah dan beberapa kali mengalami perbaikan untuk mempertahankan kondisi bangunannya.
Hingga kini, bentuk bangunan masih memperlihatkan ciri khas arsitektur kolonial yang sederhana namun kokoh.
Keunikan Gereja Tua Imanuel terlihat pada konstruksi bangunannya yang menggunakan dinding tebal, jendela-jendela tinggi, serta atap tradisional yang menyatu dengan lingkungan alam Negeri Hila.
Lokasinya yang berada di kawasan bersejarah menjadikan gereja ini memiliki hubungan erat dengan berbagai peninggalan kolonial lainnya, termasuk Benteng Amsterdam yang berada tidak jauh dari lokasi gereja.
Selain berfungsi sebagai tempat ibadah, Gereja Tua Imanuel juga menjadi saksi perjalanan masyarakat Hila selama berabad-abad. Berbagai peristiwa sejarah, mulai dari masa perdagangan rempah-rempah, pergantian kekuasaan kolonial, hingga perkembangan kehidupan sosial masyarakat Maluku, pernah berlangsung di sekitar kawasan ini.
Keberadaan gereja yang telah bertahan lebih dari lima abad menunjukkan pentingnya pelestarian warisan budaya dan sejarah di Maluku. Hingga saat ini, Gereja Tua Imanuel masih digunakan oleh jemaat setempat dan menjadi salah satu tujuan wisata sejarah yang menarik perhatian wisatawan, peneliti, maupun mahasiswa yang ingin mempelajari sejarah Maluku lebih dekat.
Sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang masih berdiri kokoh, Gereja Tua Imanuel tidak hanya menjadi simbol perkembangan agama Kristen di Maluku, tetapi juga pengingat akan panjangnya perjalanan sejarah masyarakat Hila.
Melalui pelestarian bangunan ini, generasi muda dapat terus mengenal dan menghargai warisan sejarah yang menjadi bagian penting dari identitas Maluku.




