Kekayaan Hutan Pulau Seram Sudah Disikat Habis ProJo Pangestu Orang Terkaya 14 Dunia, Nomor 1 Indonesia, Ini Ulasan Sek Hena Hetu SBB

oleh -0 views

Ambon,CahayaMediaTimur.com-Prajogo Pangestu, Hari ini, di tahun 2026, majalah Forbes mencatat kekayaannya mencapai 800 triliun, menjadikannya manusia terkaya nomor satu di Indonesia.

 

Sekertaris Hena Hetu SBB Akrap di sapa Bung Verry alias Veja menyampaikan kepada sejumlah awak media di Ambon lewat pesan Whatsaap-nya” Kisah akumulasi modal maha dahsyat Prajogo tidak lahir begitu saja. Ia dimulai dari pertemuannya dengan Burhan Uray (Bong Sun On), seorang pengusaha kayu asal Serawak, Malaysia, Saat bergabung di PT Djajanti Group yang berbasis di hutan pulau Seram, Lalu ia mengambil lompatan besar. Ia membeli CV Pacific Lumber Coy yang hampir bangkrut dan mengubahnya menjadi PT Barito Pacific Timber. Beber-nya.

 

Dikatakan-nya” Pada puncak kejayaannya di era 1980-an hingga 1990-an, Barito Pacific Timber bukan sekadar pemain, Ia adalah penguasa hutan Nusantara, Laporan-laporan bisnis mencatat, Prajogo berhasil memperoleh Hak Pengusahaan Hutan (HPH) seluas lebih dari 6 juta hektar di berbagai daerah termasuk eksploitasi besar-besaran di Pulau Seram. Ujarnya

 

Pasal-nya” KAYU SERAM mengalir deras ke pabrik-pabrik plywood, Getah dan serat kayu hutan Maluku menjadi salah satu roda penggerak mesin uang Prajogo yang pertama, Di sinilah dulu darah kekayaannya bersumber, jauh sebelum ia beralih ke petrokimia pada 2007,

Dari uang kayu itulah, Prajogo membangun imperium, Pada 2007, ia mengakuisisi 70% saham Chandra Asri, perusahaan petrokimia raksasa.

 

Kata Veja” Pada 2011, Chandra Asri melebur dengan Tri Polyta Indonesia menjadi produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia, Tidak berhenti di situ, ia merambah energi baru terbarukan (EBT) melalui Barito Renewables Energy (BREN), dan pertambangan melalui Petrindo Jaya Kreasi (CUAN), Hanya dalam beberapa tahun, kekayaannya meledak hingga ratusan triliun. Terangnya

 

Ditambahkan,”Siklusnya klasik dan menyakitkan bagi daerah, Ekstraksi Sumber Daya Alam (SDA) dari daerah kemudian akumulasi modal di pusat kemudian bertransformasi ke industri bernilai tambah tinggi di Jawa setlah itu daerah hanya menjadi penonton.

 

Pulau Seram dan Maluku umumnya hanya menjadi pemasok bahan mentah. Sementara pabrik petrokimia terbesar berdiri megah di Merak dan Cilegon, Maluku yang dulu kayunya menjadi fondasi awal sumber kekayaan tetap bergulat dengan angka kemiskinan di atas rata-rata nasional. Jelas Veja

 

Veja menyampaikan” Berita baik datang, Dan ini harus dibaca pemerintah daerah dengan cerdas, PT Petrosea Tbk (PTRO), emiten milik Prajogo Pangestu, baru saja menandatangani kontrak proyek di Blok Masela, Konsorsium yang beranggotakan Petrosea (dengan porsi 36%), PT Enviromate Technology International, dan PT Nindya Karya (Persero) akan mengerjakan konstruksi perimeter LNG di Lapangan Abadi.

 

Pertanyaannya sekarang, Apakah kehadiran Prajogo Pangestu di Masela hanya akan berhenti sebagai pembangun jalan dan pagar perimeter, lalu uangnya kembali mengalir ke Jakarta? Atau akankah Tuan Prajogo mengembalikan hutang sejarahnya dengan membangun pabrik petrokimia langsung di tanah Maluku?

 

Bayangkan potensinya. Blok Masela memiliki cadangan gas raksasa yang berpotensi menghasilkan 9,5 juta metrik ton LNG per tahun, dan 35.000 barel kondensat per hari. Angka-angka ini adalah mimpi basah bagi industri petrokimia.

 

Tuan Prajogo sudah memiliki rantai pasok hilirisasi gas yang matang melalui Chandra Asri. Lalu mengapa pabriknya tidak dibangun di Pulau Seram? Mengapa tidak membangun kilang metanol, amoniak, atau polypropylene di dekat sumber gas? Dengan begitu, nilai tambah tidak lagi dinikmati sendirian oleh Cilegon, tetapi juga oleh anak-anak muda Maluku yang saat ini menganggur. Jelasnya

 

Pemerintah Provinsi Maluku harus bergerak taktis, bukan hanya seremoni, Jangan hanya menunggu belas kasih, Berikut adalah 4 langkah HARUS dilakukan untuk menarik Prajogo Pangestu berinvestasi penuh di Seram Bagian Barat:

Lakukan pendekatan pribadi dan institusional, Ingatkan Tuan Prajogo bahwa kekayaannya dimulai dari kayu, dan kayu itu berasal dari Maluku, Jangan gunakan nada menuntut, gunakan nada kemitraan strategis, Katakan “Pak Prajogo, dulu Kayu Seram mengantar Bapak ke puncak, Sekarang, Gas Masela akan mengantar warisan Bapak ke level berikutnya, dengan meninggalkan pabrik di Seram.”

 

Siapkan kawasan industri terintegrasi di Seram Bagian Barat yang dekat dengan infrastruktur gas, Tidak perlu lahan luas yang kosong melompong, Siapkan listrik, air, dan akses jalan, Tawarkan sistem KPBU (Kerja Sama Pemerintah dengan Badan Usaha) yang cepat, transparan, dan bebas pungli. Ujarnya

 

PT Petrosea saat ini sudah ada di Masela mengerjakan proyek Rp989 miliar, Gunakan momen ini untuk melakukan negosiasi hilir, Undang petinggi Barito Pacific dan Chandra Asri untuk melihat langsung potensi lahan di Seram, Jangan biarkan mereka pulang tanpa komitmen memorandum of understanding (MoU) pengembangan kawasan industri petrokimia.

 

Maluku adalah daerah terdepan, tertinggal, dan terluar (3T). Manfaatkan status ini, Berikan tax holiday, kemudahan izin, dan jaminan keamanan investasi jangka panjang, Jangan sampai investor besar seperti Prajogo memilih daerah lain karena birokrasi yang berbelit.

 

Tuan Prajogo Pangestu bukanlah orang jahat, Ia adalah pengusaha paling visioner yang dimiliki Indonesia, Tapi sejarah tetaplah sejarah, Kayu Seram pernah menjadi darah segar yang menghidupkan mesin bisnisnya. Sekarang, saatnya Seram mendapatkan transfusi darah baru dari pabrik petrokimia yang dibangun oleh tangan yang sama.

 

Rakyat Maluku tidak ingin menggoyang masa lalu, Mereka ingin masa depan, Mereka tidak ingin Prajogo hanya lewat sebagai kontraktor, tetapi sebagai mitra pembangunan.

 

Pemerintah Provinsi Maluku, Jangan tidur, Jemput bola, Kepada Tuan Prajogo, Kembalilah ke Maluku, Bukan untuk menebang, tetapi untuk membangun. Seram menanti sepertia orang tua menantikan kepulangan sang anak yang telah sukses di perantauan. Tutupnya