Wahai,CahayaMediaTimur.com-Komitmen Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai tingkatkan kualitas pembinaan kepribadian Warga Binaan terus diperkuat melalui pengembangan budaya literasi. Salah satunya lewat optimalisasi fungsi Perpustakaan Lapas Wahai sebagai sarana edukasi, pembelajaran, dan pengembangan wawasan bagi Warga Binaan di tengah masa pembinaan.
Perpustakaan Lapas Wahai menyediakan beragam koleksi bacaan, mulai dari buku pengetahuan umum, keagamaan, keterampilan, hingga motivasi. Keberadaan perpustakaan ini dimanfaatkan secara aktif oleh Warga Binaan untuk mengisi waktu dengan kegiatan positif, sekaligus meningkatkan kemampuan berpikir kritis dan memperluas pengetahuan sebagai bekal reintegrasi sosial.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menilai literasi sebagai bagian penting dari pembinaan kepribadian Warga Binaan. Menurutnya, membaca tidak hanya menambah wawasan, tetapi juga membentuk karakter, pola pikir, dan sikap yang lebih baik.
“Melalui perpustakaan, kami ingin memastikan Warga Binaan tetap mendapatkan akses pendidikan dan pengetahuan. Literasi adalah fondasi penting untuk membangun kesadaran, tanggung jawab, dan kesiapan mereka saat kembali ke masyarakat,” tuturnya, Selasa (10/2).
Senada dengan hal tersebut, Kepala Subseksi Pembinaan, Merpaty S. Mouw, menjelaskan bahwa kegiatan literasi di perpustakaan menjadi salah satu program pembinaan yang berkelanjutan. Pihaknya secara rutin mendorong Warga Binaan untuk memanfaatkan perpustakaan sebagai ruang belajar yang aman dan kondusif.
“Kami terus memotivasi Warga Binaan agar menjadikan membaca sebagai kebiasaan. Perpustakaan ini bukan hanya tempat meminjam buku, tetapi juga ruang refleksi dan pengembangan diri,” ujarnya.
Dukungan juga datang dari Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, yang mengapresiasi langkah Lapas Wahai dalam mengembangkan literasi di dalam Lapas. Ia menilai, penguatan budaya baca sejalan dengan tujuan Pemasyarakatan untuk membentuk Warga Binaan yang lebih mandiri, berpengetahuan, dan berkarakter.
“Literasi adalah kunci pembinaan intelektual. Apa yang dilakukan Lapas Wahai merupakan praktik baik yang patut dipertahankan dan dikembangkan, karena memberikan dampak positif jangka panjang bagi Warga Binaan,” ungkapnya.
Salah satu Warga Binaan, AD, turut merasakan langsung manfaat dari keberadaan perpustakaan tersebut. Ia mengaku kini lebih termotivasi untuk membaca dan belajar selama menjalani masa pidana.
“Dengan membaca buku di perpustakaan, saya merasa waktu di Lapas lebih bermanfaat. Banyak pengetahuan baru yang saya dapatkan dan ini menjadi bekal untuk memperbaiki diri ke depan,” tuturnya.
Melalui penguatan literasi di balik jeruji, Lapas Wahai hadirkan pembinaan yang humanis dan bermakna, guna membentuk Warga Binaan yang siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik dan produktif.
