Open House Waisak di Aula Sanggar Metta, Perkuat Kerukunan dan Semangat Kebhinnekaan

oleh -1 views

Semarang,CahayaMediaTimur.com-Suasana penuh kehangatan dan kebersamaan mewarnai kegiatan Open House Waisak 2570 BE/2026 yang digelar di Aula Sanggar Metta, Kabupaten Semarang, Selasa (02/06/2026). Acara tersebut dihadiri berbagai kalangan masyarakat, tokoh agama, seniman, serta unsur pemerintahan sebagai wujud nyata semangat toleransi dan persaudaraan lintas agama.

 

Pemilik Sanggar Metta, Rama Pujiyanto, mengatakan bahwa kegiatan open house telah menjadi tradisi yang rutin dilaksanakan setiap perayaan Hari Raya Waisak. Namun, pada tahun ini pelaksanaannya disesuaikan dengan agenda latihan Sanggar Metta yang akan mengikuti pentas seni di Taman Mini Indonesia Indah (TMII), Jakarta.

 

“Setiap Hari Raya Waisak kami selalu mengadakan open house, biasanya minimal tiga hari. Namun tahun ini karena tempat ini digunakan untuk latihan Sanggar Tari Metta yang akan tampil pada 5, 6, dan 7 Juni di Taman Mini Indonesia Indah Jakarta, maka kegiatan latihan berlangsung terus-menerus,” ujar Rama Pujiyanto.

 

Meski demikian, menurutnya, esensi open house tetap terjaga sebagai sarana mempererat silaturahmi antarumat beragama dan seluruh elemen masyarakat.

 

“Kami memberi kesempatan kepada masyarakat, saudara-saudara kita yang beragama Islam, Kristen, Katolik, unsur pemerintahan, serta para pelaku seni dan budaya untuk bersilaturahmi. Tujuannya agar kita tetap saling berkomunikasi, menjalin persahabatan, pertemanan, dan kekeluargaan. Itulah indahnya kehidupan beragama,” katanya.

 

Rama menegaskan bahwa kerukunan di Kabupaten Semarang selama ini terjalin dengan sangat baik. Menurutnya, nilai utama dari ajaran agama adalah persaudaraan dan kebersamaan.

 

“Setinggi-tingginya seseorang belajar agama dan sedalam-dalamnya memahami agama, pada dasarnya yang dibutuhkan adalah persaudaraan. Kita tidak bisa hidup sendiri, sehingga harus terus menjaga hubungan baik dengan sesama,” ungkapnya.

Ia juga mengaitkan nilai-nilai tersebut dengan Pancasila dan semangat Bhinneka Tunggal Ika yang menjadi fondasi kehidupan berbangsa di Indonesia.

 

“Indonesia terdiri dari banyak suku, bangsa, budaya, dan agama. Open house ini menjadi salah satu wujud Bhinneka Tunggal Ika. Yang hadir berasal dari berbagai kalangan, seniman, tokoh agama, maupun instansi yang berbeda-beda. Yang kami lihat bukan perbedaannya, tetapi kebersamaannya,” ujarnya.

 

Kepada generasi muda, Rama berpesan agar memanfaatkan masa muda untuk menebarkan kebaikan kepada sesama.

 

“Selagi masih muda, selagi ada waktu dan kesempatan, berbuatlah baik kepada banyak orang,” pesannya.

 

Sementara itu, Kepala Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Semarang, Ta’yinul Biri Bagus Nugroho, menilai kegiatan Open House Waisak yang diselenggarakan Sanggar Metta merupakan contoh nyata praktik toleransi yang patut diapresiasi dan diteladani.

Menurutnya, seluruh agama mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan, persaudaraan, dan kehidupan yang damai di tengah keberagaman.

 

“Open house yang diadakan oleh Rama Pujiyanto menunjukkan bahwa toleransi yang diajarkan oleh semua agama benar-benar hidup di Kabupaten Semarang. Tokoh agama, tokoh masyarakat, dan seluruh unsur masyarakat dapat hidup berdampingan dengan damai,” katanya.

 

Ia menegaskan bahwa hubungan antarmanusia seharusnya dibangun atas dasar kemanusiaan, bukan perbedaan agama maupun latar belakang lainnya.

 

“Kita tidak melihat apa agamanya, tetapi melihat bahwa kita sama-sama manusia dan makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain,” ujarnya.

 

Ta’yinul berharap kegiatan serupa dapat terus digaungkan dan dipublikasikan secara luas agar menjadi inspirasi bagi daerah lain di Indonesia.

 

“Hal-hal baik seperti ini perlu diberitakan dan disebarluaskan agar bisa ditiru oleh masyarakat di tempat lain. Ketika praktik toleransi yang baik diperlihatkan kepada publik, maka akan semakin banyak pihak yang terdorong untuk melakukan hal yang sama,” tuturnya.

 

Lebih lanjut, ia mengajak generasi muda untuk aktif berorganisasi, memperluas pergaulan, serta meningkatkan budaya membaca guna membangun kedewasaan berpikir.

 

“Jangan hanya sibuk dengan dunia yang sempit di dalam telepon genggam. Belajarlah bergaul, berorganisasi, dan membaca. Dengan begitu wawasan akan terbuka bahwa hidup ini luas, banyak hal yang bisa dikerjakan, dan banyak cita-cita yang dapat diraih,” katanya.

 

Melalui kegiatan Open House Waisak di Aula Sanggar Metta tersebut, semangat toleransi, persaudaraan, dan kebhinekaan kembali ditegaskan sebagai modal penting dalam menjaga persatuan bangsa di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.(msa)