Wahai,CahayaMediaTimur.com-Upaya memperkuat ketahanan pangan di lingkungan Pemasyarakatan terus diwujudkan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai melalui program pembinaan kemandirian bidang pertanian. Memanfaatkan lahan terbatas, Warga Binaan konsisten kembali panen sayuran kangkung dengan sistem hidroponik vertikultur yang dimanfaatkan menjadi salah satu penopang kebutuhan dapur Lapas, khususnya selama Ramadan 1447 Hijriah, Senin (2/3).
Budidaya kangkung dengan metode tanam vertikultur pada area sempit di pojok belakang tembok Lapas itu dimanfaatkan secara optimal dan produktif oleh Warga Binaan. Kangkung hidroponik yang dibudidayakan memiliki siklus panen relatif singkat, yakni setiap 21–30 hari sehingga mampu menghasilkan pasokan sayuran segar secara rutin dan berkelanjutan.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menyampaikan program ini bukan sekadar kegiatan bercocok tanam, tetapi merupakan strategi pembinaan yang berdampak langsung. “Dari kebun vertikultur ini, hasil panen langsung dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur Lapas. Terlebih di bulan Ramadan, kangkung segar ini membantu memenuhi menu sahur dan berbuka puasa bagi Warga Binaan. Ini adalah bentuk nyata pembinaan yang produktif dan bermanfaat,” ujarnya.
Tersih menambahkan pemanfaatan sistem hidroponik juga memberikan nilai tambah dari sisi kebersihan, efisiensi air, dan kemudahan perawatan. Selain itu, Warga Binaan dilibatkan secara aktif mulai dari proses penyemaian, pemberian nutrisi, hingga panen. “Ayo kita dukung Program Aksi Kementerian Imigrasi dan Pemasyarakatan Tahun 2026 tentang kemandirian pangan,” ajaknya.
Kepala Subseksi Pembinaan Merpaty Susana Mouw, menjelaskan kegiatan ini menjadi sarana pembelajaran keterampilan hidup yang aplikatif. Menurutnya, hasil panen kangkung ini turut mendukung efisiensi anggaran bahan pangan segar dan memperkuat program kemandirian pangan di Lapas, terutama pada momentum Ramadan yang membutuhkan pengelolaan konsumsi secara optimal.
“Warga Binaan tidak hanya bekerja, tetapi juga belajar. Mereka memahami teknik dasar hidroponik, manajemen waktu tanam, hingga pentingnya konsistensi perawatan. Dengan panen rutin setiap bulan, mereka bisa melihat hasil nyata dari proses yang dijalani,” jelas Merpaty.
Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas hal tersebut. “Program ini menunjukkan keterbatasan lahan bukan menjadi hambatan untuk tetap produktif. Justru melalui kreativitas dan semangat pembinaan, lahan sempit dapat menjadi sumber manfaat yang nyata. Inilah wujud implementasi pembinaan kemandirian yang berkelanjutan,” pujinya.
Ricky juga menambahkan hal ini adalah bukti nyata pembinaan yang berdampak. Warga Binaan tidak hanya diam, tetapi dilatih untuk produktif. “Panen ini bukan sekadar tentang besar kecilnya hasil, melainkan keberlanjutan, inovasi, dan semangat perubahan di bulan Ramadan,“ tambahnya.
Dari kebun vertikultur sederhana ala Lapas Wahai, kini tumbuh harapan dan kemandirian. Kangkung hidroponik yang dipanen rutin bukan hanya menjadi bahan pangan bagi kesehatan dan gizi bersama, tetapi juga simbol proses pembinaan yang memberi nilai, makna, dan perubahan positif bagi Warga Binaan.
