Piru,CahayaMediaTimur.com-Desa Kawa, Abuhaer Kilwou membantah tudingan bahwa dirinya membuat gaduh hingga memicu pemalangan kantor desa. Ia menegaskan, rapat yang digelar bersama soa, tokoh adat, dan karyawan perusahaan berjalan aman, tanpa keributan.
“Tadi kan beta rapat dengan kedua Soa, kepala Soa, dan anak Soa. Beta sudah sampaikan terkait hasil kemarin itu.”Rencana rapat tadi itu sebenarnya soal perusahaan Abaka yang mau bersedia bawa dokumen untuk katong semua tahu. Tapi karena alasan kemarin itu (RDP), perusahaan tidak hadir,” jelasnya.
Ia menuturkan, saat rapat berlangsung, karyawan sempat menanyakan soal nasib mereka jika perusahaan benar-benar menutup operasional.
“Lalu karyawan ada tanya, ‘Bapak Pejabat kira-kira bagaimana deng nasib karyawan?’ Beta bilang, kalau Pemda atau pemerintah negeri yang tutup, katong bisa kasih alasan. Tapi ini inisiatif perusahaan. Jadi katong seng bisa kasih jawaban. Jadi terkait alasan itu, mungkin adik-adik karyawan bisa ke perusahaan, tanya info atau solusinya seperti apa. Kalau dapat, sampaikan ke katong,” ungkapnya.
Setelah rapat selesai, situasi masih aman dan tidak ada keributan. Pejabat Desa Kawa kemudian langsung menuju Piru. Namun, dalam perjalanan ia menerima kabar yang mengejutkan.
“Beta sudah ke Piru karena rapat abis, situasi aman-aman, tidak ada ribut-ribut. Tapi dalam perjalanan, beta dapat telepon dari staf desa. Katanya, dong sudah datang demo di kantor desa. Sekitar lima menit kemudian ditelpon lagi, katanya dong palang kantor desa. Beta juga bingung ini dong palang terkait apa? Padahal permintaan dong itu supaya kalau bisa beta dan Ketua BPD bikin surat ke Bapak Bupati agar perusahaan Abaka bisa terus beroperasi. Tapi sekarang sudah tidak dipalang lagi,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menanggapi adanya isu yang menyebut Pemerintah Negeri dan BPD menggiring opini terkait kontrak lahan. Menurutnya, hal itu tidak benar.
“Info itu muncul waktu berita Ketua BPD yang naik kemarin itu. Jadi dari situ katong ambil inisiatif untuk undang kedua kepala soa, tokoh adat, dan anak adat. Dari pertemuan itu, semua sepakat untuk undang pihak PT SIM supaya bisa tunjukkan dokumen apakah benar sesuai yang diberitakan. Kemarin katong sudah layangkan surat undangan ke PT SIM untuk pertemuan hari ini. Tapi pagi tadi pihak PT SIM datang sampaikan bahwa mereka tidak hadir lagi,” ungkapnya.
Di sisi lain, Pejabat Desa Kawa juga meluruskan kabar soal arahan dirinya kepada karyawan. Menurut dia, justru setelah karyawan keluar dari rapat, mereka menuju perusahaan dan tidak bertemu dengan manajer, melainkan bertemu dengan Anwar Latumakulita.
“Dari karyawan ini beta dapat info, ternyata mereka ketemu dengan Anwar, bukan dengan manajer. Dan menurut mereka, arahan dari Anwar adalah supaya pergi tegaskan ke Pemerintah Negeri dan BPD agar buat surat ke Bapak Bupati supaya perusahaan tetap jalan di SBB,” terangnya.
Karena itu, ia menegaskan sekali lagi bahwa tuduhan dirinya membuat gaduh tidaklah benar. “Jadi, apa yang diisukan terkait beta itu seng betul. Untuk buat gaduh segala macam itu tidak ada sama sekali,” pungkasnya.






