Ambon,CahayaMediaTimur.com-Pemerintah Kota Ambon mulai menyiapkan strategi baru untuk mengantisipasi lonjakan harga kebutuhan pokok. Melalui Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID), Pemkot memperkenalkan SIKENDALI AMBON, sebuah sistem berbasis data yang dirancang mendeteksi risiko inflasi sebelum berdampak pada masyarakat.
Konsep yang merupakan singkatan dari Sinergitas Kendali Inflasi dan Neraca Logistik Ambon itu dipaparkan oleh Kepala Dinas Kominfo dan Persandian Kota Ambon Ronald Lekransy dalam High Level Meeting Tim Pengendalian Inflasi Daerah (TPID) Bersama Stacholders dan Implementasi Sikendali Ambon di lantai lima Manise Hotel, Jumat (30/10/2026)
Lekransy menjelaskan bahwa SIKENDALI AMBON dirancang untuk mengintegrasikan informasi harga, stok, produksi, kebutuhan, pasokan, distribusi, pelayaran hingga kondisi cuaca.
Menurutnya, Ambon memiliki tantangan tersendiri dalam menjaga stabilitas harga karena merupakan wilayah kepulauan yang masih bergantung pada pasokan barang dari luar daerah.
Artinya, kenaikan harga tidak selalu disebabkan oleh kondisi pasar. Gangguan pelayaran, cuaca buruk, keterlambatan distribusi hingga terbatasnya stok juga dapat memicu tekanan harga kebutuhan pokok.
“SIKENDALI AMBON merupakan konsep TPID Kota Ambon untuk mengubah pola pengendalian dari sekadar melihat perubahan harga menjadi membaca risiko di sepanjang rantai pasok,” ujar Lekransy.
Sistem ini dirancang bekerja melalui tahapan pengumpulan dan verifikasi data, analisis, prediksi risiko, peringatan dini, rekomendasi hingga intervensi.
Sejumlah lembaga, termasuk BPS, Bank Indonesia, Pelindo, BMKG, organisasi perangkat daerah (OPD) dan distributor, akan menjadi sumber informasi yang saling melengkapi.
Keterlibatan distributor juga dinilai penting. Namun, pemerintah tidak meminta rahasia bisnis perusahaan, melainkan data relevan mengenai stok, pasokan, harga dan distribusi yang dapat dipertanggungjawabkan.
Rapat tersebut turut melibatkan unsur TPID, Bank Indonesia, BPS, BMKG, Krimsus, Pelindo dan perangkat daerah teknis.
Lekransy menegaskan, pengembangan sistem dilakukan bertahap dengan memperhatikan kesiapan teknologi, keamanan informasi, kualitas data dan sumber daya manusia.
Targetnya, Ambon tidak lagi hanya bereaksi ketika harga sudah melonjak, tetapi mampu membaca potensi gangguan pasokan lebih awal agar langkah pengendalian bisa dilakukan sebelum masyarakat merasakan dampaknya.
