Wali Kota Ambon Resmikan EWS Banjir dan Tugu Tsunami di Hative Kecil

oleh -4 views

Ambon,CahayaMediaTimur.com-Pemerintah Kota Ambon memperkuat mitigasi bencana dengan meresmikan Early Warning System (EWS) banjir dan Tugu Tsunami di Negeri Hative Kecil, Kota Ambon, Sabtu (5/9/2026).

 

Peresmian fasilitas tersebut melibatkan sejumlah pihak, di antaranya Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Pattimura (Unpatti), pemerintah negeri, akademisi dan pemerhati lingkungan.

 

Wali Kota Ambon Bodewin M. Wattimena mengatakan, langkah tersebut penting karena Kota Ambon memiliki kerawanan terhadap berbagai bencana, mulai dari gempa bumi, tsunami, banjir, tanah longsor hingga cuaca ekstrem.

 

“Bencana tidak bisa kita hindari, tetapi bisa kita minimalisir risikonya. Paling tidak, korban jiwa jangan sampai timbul karena bencana itu,” tegas Bodewin.

 

EWS banjir yang dipasang dilengkapi kamera CCTV dan alat pengukur ketinggian muka air sungai. Perwakilan ITB, Dr. Mohammad Farid, mengatakan data ketinggian air diperbarui setiap dua menit.

 

Sistem tersebut menggunakan indikator warna hijau, kuning, oranye hingga merah. Saat kondisi mencapai indikator oranye, sistem akan mengirimkan sinyal peringatan dan pesan melalui Telegram agar masyarakat segera meningkatkan kewaspadaan.

 

Farid mengatakan, sistem tersebut selanjutnya akan dikoordinasikan dengan BPBD Kota Ambon agar dapat terintegrasi dengan sistem kebencanaan pemerintah daerah.

 

Bodewin meminta masyarakat tidak hanya memanfaatkan EWS, tetapi juga menjaga peralatan tersebut agar tetap berfungsi.

 

“Alat-alat mahal yang dipasang ini untuk menjaga kita semua. Saya berharap dijaga,” pintanya.

 

Ia juga menegaskan, masyarakat harus segera mengungsi ketika kondisi air telah mencapai tingkat yang membahayakan.

 

“Kalau air sudah melebihi debit yang rawan, segera mengungsi,” tegasnya.

 

Sementara itu, Tugu Tsunami dibangun untuk mengingatkan masyarakat terhadap peristiwa tsunami yang pernah terjadi di wilayah Galala dan Hative Kecil pada 8 Oktober 1950, yang dikenal masyarakat sebagai peristiwa “Air Turun Naik”.

 

Bodewin menegaskan, tugu tersebut bukan sekadar monumen, tetapi harus menjadi sarana edukasi bagi generasi penerus.

 

“Jangan dipandang sekadar monumen batu beton yang berdiri begitu saja. Tugu ini harus menjadi pengingat,” ujarnya.

 

Bodewin berharap kolaborasi pemerintah, perguruan tinggi dan masyarakat terus diperkuat untuk membangun ketangguhan warga Kota Ambon menghadapi berbagai ancaman bencana.