Asal Mula Kekayaan Prajogo Pangestu Berasal dari Kayu Kayu Pulau Seram

oleh -1 views

Piru,CahayaMediaTimur.com-Mungkin tidak banyak yang tahu bahwa Prajogo Pangestu, sang taipan energi dan petrokimia, memulai akumulasi kekayaannya bukan di gedung-gedung tinggi Jakarta, tetapi berbasis di kekayaan hutan pulau Seram dengan pabrik plywood di Desa Waisarisa, SBB. Setelah sukses di PT Djayanti group, Prajogo Pangestu mendirikan Barito Pacific Timber, perusahaannya, menguasai Hak Pengusahaan Hutan (HPH) yang membentang luas di Maluku, termasuk di Seram Bagian Barat(SBB).

 

Hal ini disampaikan Gerald Wakano pada awak media,Senin(8/6/2026) di Piru. Dikatakan Pohon-pohon yang tumbuh selama ratusan tahun ditebang dalam hitungan hari. Kayu Seram dikirim ke luar, ke Surabaya, ke Jakarta, ke pasar global,ujar Wakano.

 

Menurutnya,dari kayu itulah, dari hutan kita yang gundul , Prajogo mengakumulasi modal awal. Dari Waisarisa, ia belajar bisnis. Dari Maluku, ia membangun fondasi. Uang hasil hutan Seram itu, ia kemudian mengakuisisi PT Chandra Asri, masuk ke bisnis petrokimia, dan melesat ke puncak dunia.

 

Wakano menjelaskan, pada awal Januari 2026, Forbes mencatat Ia menjadi orang terkaya di Asia Tenggara dan peringkat 14 dunia.

Sementara itu, kita di Maluku? Inilah sebuah retorika sangat kontras, Kita hanya bisa mencatat defisit. Sementara hutan kita gundul, sawah kita kering, dan anak-anak kita putus sekolah.”Bahkan Maluku dan SBB tercatat sebagai salah satu wilayah termiskin di Indonesia, ungkapnya.

 

Selain itu, Prajogo Pangestu dan grup Barito-nya terus bertambah kaya melalui energi terbarukan, petrokimia, dan pertambangan. Sementara Maluku, yang kayunya dulu dijarah, kini hanya bisa menjadi pasar bagi produk-produk petrokimia yang dihasilkan perusahaannya, karena daya beli masyarakat rendah. Ini namanya ekonomi ekstraktif tanpa kembalian. Feodalisme modern. Ketidakadilan struktural yang terstruktur dan sistematis.

 

Saya tahu, Tuan-tuan pejabat di Maluku dan di Seram Bagian Barat, mungkin ada yang berkata “Ah, itu sejarah masa lalu. Kami tidak bisa memaksa investor” Saudara-saudaraku, ini bukan soal memaksa. Ini soal mengemas fakta sejarah menjadi kekuatan negosiasi. Kita tidak perlu meminta-minta.

Kita perlu menawarkan sesuatu yang sangat berharga bagi Prajogo Pangestu, yaitu. Dari potensi Gas Blok Masela, yang ada di perairan Maluku, tepatnya di Kabupaten Kepulauan Tanimbar. Dengan cadangan gas raksasa, ini adalah lokasi paling strategis untuk membangun pabrik petrokimia hilir. Dan siapa yang paling paham bisnis petrokimia di Indonesia? Prajogo Pangestu. Industri Pertokimia adalah salah satu industry dengan penyerapan tenaga kerja terbesar serta memberikan PAD besar bagi daerah Maluku. Kami punya sumber daya alam (SDA)berupa bahan baku gas dan minyak bumi yang dapat di rubah menjadi bahan baku industry petrokimia.

Pemerintah harus dapat menawarkan kepada beliau, “Pak, dulu Bapak membangun kekayaan dari kayu Seram. Sekarang, waktunya Bapak membangun masa depan Seram dari gas Seram.

 

Lanjutnya,bangunlah pabrik petrokimia di tanah Maluku. Jadikan Seram bukan hanya saksi bisu, tetapi juga penerima manfaat dari revolusi industri Bapak.”

Siapkan lahan di kawasan pesisir Seram yang dekat dengan infrastruktur gas. Beri insentif fiskal super agresif. Jadikan Maluku sebagai kawasan ekonomi khusus petrokimia. Jangan birokrasi berbelit, jangan pungli, jangan ego sektoral,tegas Gerald.

 

Air mata saya hampir jatuh ketika menulis ini. Bukan karena sentimentil, tetapi karena geram. Geram melihat potensi luar biasa yang dibiarkan menguap. Geram melihat orang kaya makin kaya, orang miskin makin menderita. Sedangkan pemerintah kami hanya berpikir untuk mendapatkan dana transfer dari pusat, padahal potensi kami sangatlah besar.

 

Tuan-tuan pejabat yang terhormat,

Jangan biarkan Desa Waisarisa hanya menjadi catatan kaki dalam biografi orang kaya. Jadikan ia sebagai pengingat bahwa Maluku pernah memberikan segalanya. Dan sekarang, Maluku berhak mendapatkan kembali bukan pemberian, tetapi keadilan ekonomi, tandasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.