Langgur,CahayaMediaTimur.com-Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tual, Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku terus berkomitmen membekali warga binaan dengan keterampilan produktif. Terbaru, Lapas Tual menggalakkan program kemandirian pembuatan keripik pisang khas daerah yang kini mulai merambah pasar lokal. Program ini diharapkan menjadi bekal nyata bagi warga binaan setelah bebas nanti. (02/01/2026)
Di balik jeruji besi, kreativitas tidak berhenti. Sejumlah warga binaan tampak sibuk mengolah pisang segar menjadi keripik renyah. Mulai dari proses pengupasan, pemotongan dengan presisi, hingga penggorengan dan pengemasan dilakukan dengan standar kebersihan yang terjaga.
Program ini bukan sekadar mengisi waktu luang, melainkan bagian dari pembinaan kemandirian yang terstruktur.
“Kami ingin mengubah stigma bahwa Lapas adalah tempat hukuman semata. Di sini, kami fokus pada pembangunan karakter dan keterampilan. Produk keripik pisang ini adalah bukti bahwa warga binaan kami memiliki potensi besar untuk berkontribusi secara ekonomi. Kami berharap masyarakat dapat menerima produk ini sebagai karya nyata mereka,” ujar Kalapas Tual.
Untuk menjaga kualitas dan keberlangsungan produksi, pihak Lapas melalui Subseksi Kegiatan Kerja melakukan pengawasan ketat, mulai dari pemilihan bahan baku pisang pilihan hingga teknik pemasaran.
“Kendala utama biasanya ada pada konsistensi rasa, namun melalui pelatihan rutin, warga binaan sudah mahir. Saat ini, kami fokus pada diversifikasi rasa dan perbaikan kemasan agar mampu bersaing di toko-toko retail maupun pasar tradisional di wilayah Tual dan Maluku Tenggara. Keuntungan dari penjualan ini juga masuk ke dalam PNBP (Penerimaan Negara Bukan Pajak) dan premi bagi warga binaan yang bekerja,” jelas Lodwyk Selaku Kasubsi Giatja
Dengan adanya program ini, Lapas Tual berharap para warga binaan memiliki rasa percaya diri dan keahlian wirausaha yang mumpuni, sehingga saat kembali ke masyarakat nanti, mereka tidak lagi dipandang sebelah mata dan mampu membuka lapangan kerja sendiri.
