Langgur,CahayaMediaTimur.com-Suasana religius kian kental terasa di balik jeruji besi Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas IIB Tual, Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Kamis (12/2/2026). Menanggapi lonjakan antusiasme warga binaan dalam memperdalam ilmu agama, pihak Lapas kini tengah menjajaki kerja sama strategis dengan Kantor Kementerian Agama (Kemenag) Kabupaten Maluku Tenggara (Malra) untuk mendirikan Taman Pendidikan Al-Qur’an (TPQ) khusus dewasa.
Langkah ini diambil sebagai bentuk respon positif atas meningkatnya kesadaran spiritual para warga binaan yang ingin memperbaiki diri melalui literasi kitab suci.
Kepala Lapas Kelas IIB Tual, Nurchalis Nur menyatakan bahwa program ini bukan sekadar kegiatan rutin, melainkan upaya rehabilitasi mental yang fundamental. “Kami melihat ada kerinduan yang besar dari warga binaan untuk bisa membaca Al-Qur’an dengan benar. Inilah momen yang tepat bagi kami untuk memfasilitasi niat baik tersebut secara lebih terstruktur,” ungkap Nurchalis.
Kerja sama yang sedang digarap dengan Kemenag Malra ini nantinya akan mencakup beberapa poin krusial: Tenaga Pengajar Profesional: Penyediaan penyuluh agama atau ustadz dari Kemenag untuk membimbing warga binaan, Kurikulum Standar TPQ: Penerapan metode pembelajaran yang sistematis, mulai dari pengenalan huruf hijaiyah hingga tajwid, Sertifikasi: Warga binaan yang lulus ujian diharapkan mendapatkan sertifikat sebagai bentuk apresiasi dan motivasi.
Plh Kepala Kemenag Maluku Tenggara, Muhammad Yusri Bau, S.H., M.Si menyambut hangat inisiatif ini. Sinergi antarinstansi ini diharapkan mampu mengubah stigma negatif penjara menjadi wadah pesantren darurat yang mendidik.
“Tujuannya jelas, agar ketika mereka bebas nanti, mereka tidak hanya membawa bekal keterampilan fisik, tetapi juga ketenangan batin dan kemampuan spiritual yang mumpuni untuk kembali ke masyarakat,” tambah Nurchalis.
Kepala Kantor Wilayah Ditjenpas Maluku, Ricky Dwi Biantoro, berharap dengan adanya TPQ ini waktu luang warga binaan dapat terisi dengan kegiatan yang jauh lebih produktif dan menenangkan hati, sekaligus menekan angka residivisme melalui pendekatan moral yang kuat.
