Wahai,CahayaMediaTimur.com-Komitmen dalam membina kepribadian menyangkut kerohanian Warga Binaan kembali ditegaskan oleh Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai. Kegiatan pembinaan spiritual ini difokuskan pada praktik membaca Al-Qur’an dengan tartil dan tuma’ninah, di mana Warga Binaan tampak mengikuti pembinaan dengan penuh keseriusan sebagai upaya meningkatkan kualitas ibadah sekaligus pemahaman makna ayat suci. Kegiatan berlangsung di pelataran Masjid At-Taubah atau Beranda Mesra pada Senin (20/4).
Tidak hanya sebagai rutinitas, kegiatan ini dirancang sebagai sarana pembentukan karakter dan penguatan mental spiritual. Warga Binaan diharapkan mampu mengamalkan nilai-nilai keagamaan dalam kehidupan sehari-hari, sehingga menjadi bekal saat kembali ke tengah masyarakat.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa pembinaan kepribadian melalui pembinaan rohani merupakan bagian integral dari fungsi pemasyarakatan yang tidak bisa diabaikan. “Pembinaan spiritual adalah bagian penting dalam membentuk karakter Warga Binaan. Dengan pembinaan yang intensif, kami berharap mereka kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik dan religius,” ungkapnya.
Senada, Ketua Majelis Taklim At-Taubah yang juga Kepala Subseksi Admisi dan Orientasi, La Joi, yang turut hadir melakukan pengawasan langsung jalannya kegiatan menegaskan bahwa pembinaan spiritual memiliki peran krusial dalam proses pemasyarakatan. “Pembinaan seperti ini bukan sekadar kegiatan rutin, tetapi menjadi fondasi penting dalam membentuk kesadaran diri Warga Binaan. Kami ingin mereka benar-benar memahami, menghayati, dan mengamalkan nilai-nilai Al-Qur’an dalam kehidupan sehari-hari,” ujar La Joi.
Ia juga menambahkan bahwa pendekatan religius yang dilakukan secara konsisten diyakini mampu membawa perubahan nyata. “Kami optimis, dengan pembinaan yang berkelanjutan dan penuh kesungguhan, Warga Binaan dapat mengalami perubahan yang signifikan, baik secara mental maupun spiritual. Ini adalah bekal penting agar mereka bisa kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik,” tambahnya.
Dalam praktiknya, para Warga Binaan diajarkan membaca Al-Qur’an secara tartil yakni dengan pelafalan yang jelas, perlahan, dan sesuai kaidah tajwid serta tuma’ninah, yaitu membaca dengan tenang dan penuh kekhusyukan.
Program ini menjadi bagian dari pembinaan berkelanjutan yang diharapkan mampu menumbuhkan semangat hijrah di kalangan Warga Binaan. Dengan pendekatan yang humanis dan religius, Lapas Wahai terus berupaya mencetak individu yang siap kembali dan diterima di tengah masyarakat dengan menjadi pribadi yang lebih beriman dan bertaqwa.




