Wahai,CahayaMediaTimur.com-Malam Jumat di Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai selalu menyimpan ketenangan yang berbeda. Di Masjid At-Taubah Lapas yang sederhana, namun sarat khidmat, puluhan Warga Binaan berkumpul, duduk bersila dengan kepala tertunduk, dan Al-Qur’an di tangan. Kali ini, lantunan Surah Yasin terdengar lirih, mengalun menembus jeruji besi dan tembok tinggi yang membatasi gerak, Kamis (5/2) malam.
Ketua Majelis Taklim yang juga Kepala Subseksi Admisi dan Orientasi Lapas Wahai, La Joi, menjelaskan momen malam Jumat selalu menghadirkan suasana emosional yang berbeda. “Saat yasinan, banyak yang terlihat sangat khusyuk, bahkan meneteskan air mata. Di momen itu, mereka merenung, menyesali kesalahan, serta memohon ampunan dan kekuatan untuk memperbaiki diri. Kegiatan ini juga menumbuhkan rasa kebersamaan karena mereka belajar saling mengingatkan, tetap teguh, dan fokus pada pembinaan,” tuturnya.
Bagi para Warga Binaan, yasinan malam Jumat bukan sekadar rutinitas ibadah. Kegiatan ini menjadi ruang introspeksi dan refleksi diri kesempatan untuk merenungi masa lalu, menata niat, dan menumbuhkan harapan agar mampu menjadi pribadi yang lebih baik.
Salah seorang Warga Binaan inisial HH mengaku kegiatan ini memberikan ketenangan batin yang sulit ditemukan di tempat lain. “Malam Jumat dan yasinan di masjid Lapas membuat hati terasa damai. Kesadaran untuk berubah makin kuat. Doa-doa ini yang menjadi pegangan,” ujar HH seraya mengatakan doa dan lantunan ayat suci menjadi pengingat bahwa kesempatan kedua selalu terbuka meski berada di balik jeruji besi.
Sementara itu, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menambahkan yasinan rutin malam Jumat di Masjid Lapas menjadi wujud komitmen dalam menghadirkan pembinaan yang humanis dan religius. “Di balik jeruji, Warga Binaan tetap membutuhkan penguatan mental dan moral. Yasinan menjadi pegangan hidup mereka selama menjalani masa pidana sekaligus memberi ruang untuk introspeksi diri. Harapan adalah hal yang harus terus ditumbuhkan di sini,” ungkapnya.
Di tempat berbeda, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, menekankan pembinaan rohani menjadi salah satu fondasi penting dalam Sistem Pemasyarakatan. “Warga Binaan adalah pelanggar hukum yang juga memiliki potensi untuk berubah. Melalui kegiatan keagamaan seperti yasinan ini, diharapkan kesadaran spiritual meningkat sehingga mereka siap kembali ke masyarakat sebagai pribadi yang lebih baik. Pembinaan ini tidak hanya soal hukum, tetapi soal hati dan karakter. Untuk itu mari kita membina karena Lapas adalah ladang amal untuk meningkatkan keimanan,” pesannya.
Melalui program pembinaan yang holistik, Warga Binaan Lapas Wahai tidak hanya belajar mematuhi aturan, tetapi juga belajar menata hati, menumbuhkan empati, dan merencanakan masa depan untuk menjadi lebih baik lewat kegiatan pembinaan rohani. Ini mengajarkan doa menjadi suara harapan yang tidak pernah dikurung untuk melahirkan iman agar tetap hidup karena kesempatan untuk berubah selalu ada bagi siapa pun yang ingin melangkah maju.
