Wahai,CahayaMediaTimur.com-Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai laksanakan panen tahap akhir jagung varietas unggul Paragon dengan hasil sebanyak 65 bonggol jagung di kebun Lapas pada Senin (27/7). Semangat panen pada kegiatan ini dilaksanakan oleh petugas bersama Warga Binaan yang tergabung dalam tamping kerja kebun sebagai konsistensi pembinaan kemandirian.
Panen kali ini merupakan lanjutan dari hasil tanam sebelumnya sekaligus penutup siklus tanam. Pada akhir Juni lalu, Lapas Wahai telah berhasil memanen sekitar 200 bonggol jagung, sedangkan panen akhir Juli ini merupakan sisa tanaman yang baru memasuki masa panen sehingga baru dapat dipetik secara optimal. Aksi ini dilaksanakan sebagai bentuk komitmen Lapas Wahai dalam mewujudkan kemandirian pangan melalui pembinaan kemandirian di bidang pertanian.
Keberhasilan panen yang dilakukan secara bertahap tersebut menjadi bukti keterbatasan lahan tidak menjadi penghalang bagi Lapas Wahai untuk terus berkontribusi dalam mendukung program ketahanan pangan nasional melalui pembinaan yang produktif. Selain menjadi pembinaan kemandirian, hasil panen tersebut juga memberikan manfaat nyata bagi kebutuhan Lapas maupun masyarakat.
Kepala Subseksi Pembinaan, La Joi, menjelaskan sebagian hasil panen akan dimanfaatkan untuk bahan pangan di dapur Lapas, sisanya dipasarkan kepada masyarakat sekitar dengan harga yang terjangkau. “Hasil panen ini sebagian besar akan dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan dapur Lapas Wahai sebagai kemandirian pangan. Sebagian lainnya kami jual kepada masyarakat dengan harga eceran Rp10.000 untuk lima bonggol jagung. Kami ingin menunjukkan pembinaan di Lapas menghasilkan produk bermanfaat sekaligus memiliki nilai ekonomi,” ungkapnya.
Salah seorang Warga Binaan yang mengikuti program pertanian ini, TW, bangga dapat terlibat langsung mulai dari proses penanaman, perawatan hingga panen. Ia merasakan banyak manfaat dari pembinaan yang diberikan oleh petugas.
“Kami diajarkan cara menanam, merawat hingga memanen jagung dengan baik. Ilmu ini sangat bermanfaat dan menjadi bekal bagi saya ketika kembali ke masyarakat nanti,” ujar TW.
Di tempat berbeda, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, memberikan apresiasi atas konsistensi jajaran pembinaan dan Warga Binaan. “Meskipun ini merupakan panen penutup dengan jumlah yang tidak sebanyak sebelumnya, nilai utamanya terletak pada proses pembinaan berkelanjutan. Kami ingin memastikan setiap Warga Binaan memiliki bekal keterampilan yang nyata dan bermanfaat. Keterbatasan lahan bukan hambatan untuk terus produktif dan mendukung ketahanan pangan nasional,” jelasnya.
Usai tahap panen terakhir dan tutup siklus tanam jagung ini, Lapas Wahai bersiap untuk kembali melanjutkan konsistensi pembinaan kemandirian dengan menanam tanaman tomat sebagai dukungan kemandirian pangan, baik untuk konsumsi dapur Lapas maupun dukungan pangan bagi warga sekitar sebagai wujud Pemasyarakatan yang berdampak.




