Saparua,CahayaMediaTimur.com-Kanwil Ditjenpas Maluku – Warga binaan Lapas Kelas III Saparua melaksanakan ibadah tutup Usbu di Gereja Lapas Saparua dengan penuh rasa khidmat. Ibadah tersebut diikuti oleh seluruh warga binaan yang beragama Kristen dan berlangsung dalam suasana sederhana namun penuh penghayatan. Meskipun kegiatan ibadah tidak dihadiri oleh pegawai, pelaksanaan ibadah tetap berjalan dengan tertib karena dipersiapkan dan dilaksanakan secara mandiri oleh warga binaan sebagai bagian dari pembinaan kerohanian di dalam lingkungan lapas. Kegiatan tersebut dilaksanakan pada Sabtu, (07/03/2026).
Ibadah dipimpin oleh J.P., salah satu warga binaan Lapas Saparua yang dipercaya memimpin jalannya rangkaian ibadah. Dalam kesempatan tersebut, ia membacakan firman Tuhan dari Injil Lukas 13: 6–9 yang berisi perumpamaan tentang pohon ara yang tidak berbuah namun masih diberikan kesempatan untuk bertumbuh dan menghasilkan buah. Ayat tersebut berbunyi: “Seorang mempunyai pohon ara yang tumbuh di kebun anggurnya, dan ia datang untuk mencari buah pada pohon itu, tetapi ia tidak menemukannya. Lalu ia berkata kepada pengurus kebun anggur itu: Sudah tiga tahun aku datang mencari buah pada pohon ara ini dan aku tidak menemukannya. Tebanglah pohon ini! Untuk apa ia hidup di tanah ini dengan percuma! Jawab orang itu: Tuan, biarkanlah dia tumbuh tahun ini lagi; aku akan mencangkul tanah sekelilingnya dan memberi pupuk kepadanya, mungkin tahun depan ia berbuah; jika tidak, tebanglah dia,” Ucapnya.
Rangkaian ibadah berlangsung secara tertib sesuai dengan susunan pelayanan yang telah disepakati. Kegiatan diawali dengan lagu pembukaan yang dilanjutkan dengan doa pembuka, kemudian jemaat menyanyikan pujian bersama. Setelah itu dilaksanakan doa pembacaan Alkitab yang dilanjutkan dengan pembacaan firman Tuhan. Usai pembacaan firman, J.P. menyampaikan renungan singkat yang menekankan makna kesempatan untuk berubah menjadi pribadi yang lebih baik serta pentingnya menghasilkan buah kehidupan yang baik.
Ibadah kemudian dilanjutkan dengan lagu pengiring persembahan syukur, doa syafaat, serta pujian penutup yang dinyanyikan bersama. Seluruh rangkaian kegiatan diakhiri dengan doa berkat sebagai peneguhan iman bagi para warga binaan.
Kepala Lapas Kelas III Saparua, Pramuaji Buamonabot, memberikan apresiasi terhadap pelaksanaan ibadah yang dilakukan secara mandiri oleh warga binaan tersebut. Ia menegaskan bahwa pembinaan kerohanian merupakan bagian penting dalam proses pemasyarakatan. “Pembinaan keagamaan menjadi sarana bagi warga binaan untuk memperkuat iman, memperbaiki diri, serta mempersiapkan diri kembali ke masyarakat dengan pribadi yang lebih baik,” ujarnya.
Melalui ibadah ini diharapkan warga binaan dapat terus menumbuhkan nilai-nilai spiritual, memperkuat keimanan, serta menumbuhkan kesadaran untuk menjalani kehidupan yang lebih baik selama menjalani masa pembinaan di Lapas Kelas III Saparua.
