Semarang,CahayaMediaTimur.com-Lurah Dadapsari, Hesti K., S.E., menyampaikan bahwa kegiatan yang digelar oleh Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Melayu bertujuan untuk memberdayakan masyarakat, khususnya pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di wilayah Dadapsari.
Dalam kegiatan tersebut, puluhan pelaku UMKM tampak berjejer memamerkan produk unggulan mereka. Menurut Hesti, keberadaan UMKM dalam setiap agenda Pokdarwis diharapkan mampu menggerakkan dan meningkatkan perekonomian warga setempat.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberdayakan UMKM agar perekonomian warga Dadapsari semakin terangkat. Selain itu, acara ini juga menampilkan seni dan budaya, seperti seni tari, musik, sanggar melukis, dan berbagai pertunjukan lainnya,” ujarnya.
Hesti menambahkan, Kampung Melayu Dadapsari merupakan kawasan dengan keberagaman etnis yang sangat kuat. Masyarakatnya terdiri dari berbagai latar belakang, seperti Jawa, Melayu, Koja, Tionghoa, India, Arab, dan etnis lainnya yang hidup berdampingan secara harmonis.
“Keberagaman multi etnis inilah yang kami kemas menjadi satu kesatuan budaya dan dikelola oleh Pokdarwis Kampung Melayu, yang saat ini telah diakomodasi dan didukung oleh Dinas Pariwisata Kota Semarang,” jelasnya.
Selain itu, Pokdarwis Kampung Melayu juga melibatkan generasi muda dari seluruh RW di Dadapsari untuk berpartisipasi aktif sebagai anggota maupun relawan. Menurut Hesti, keterlibatan anak-anak muda menjadi kunci keberlanjutan pengelolaan wisata berbasis masyarakat.
“Kami selaku pemangku wilayah selalu mendukung dan mensupport setiap kegiatan positif di Dadapsari, khususnya yang berkaitan dengan pengembangan Kampung Melayu sebagai destinasi unggulan,” katanya.
Kampung Melayu Dadapsari juga memiliki berbagai peninggalan sejarah dan purbakala, di antaranya Masjid Menara Layur, Klenteng Kam Hok Bio (Klenteng Dewa Bumi), serta deretan rumah-rumah lawas bernilai historis. Seluruh potensi tersebut dikemas sebagai daya tarik wisata yang memadukan keindahan alam, kekayaan budaya, dan sejarah.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin menguri-uri budaya, sejarah, dan potensi wisata Kampung Melayu agar terus lestari dan dikenal lebih luas,” pungkas Hesti.
Ketua Panitia Pelaksana Milad ke-3 Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Kampung Melayu, Suparji, S. Kep, menyampaikan rasa syukur atas terselenggaranya kegiatan tersebut dengan dukungan luas dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta.
Suparji mengatakan, sebagai ketua panitia ia telah berupaya maksimal dalam mempersiapkan rangkaian kegiatan milad. Dukungan yang diterima tidak hanya berasal dari lembaga pemerintah, tetapi juga dari sektor swasta serta unsur legislatif.
“Alhamdulillah, banyak pihak yang mendukung kegiatan Milad ke-3 Pokdarwis Kampung Melayu ini. Dukungan datang dari berbagai lembaga, pihak swasta, Dinas Kebudayaan dan Pariwisata, serta anggota dewan, baik dari Komisi D DPRD Kota Semarang maupun Komisi E DPRD Provinsi Jawa Tengah, yang memang membidangi seni dan budaya,” ungkapnya.
Ia menjelaskan, ide pelaksanaan peringatan milad sepenuhnya berasal dari internal Kelompok Sadar Wisata Kampung Melayu. Panitia sempat melakukan evaluasi dengan membandingkan konsep perayaan tahun-tahun sebelumnya, apakah akan diselenggarakan secara sederhana atau dengan konsep yang lebih besar.
“Awalnya kami berdiskusi, apakah milad ketiga ini cukup dilaksanakan secara sederhana seperti tahun lalu atau dikemas dengan konsep lain. Kesimpulannya, meskipun tidak semeriah tahun sebelumnya, kegiatan tetap kami selenggarakan karena tujuan utamanya adalah promosi kawasan Kampung Melayu,” jelas Suparji.
Menurutnya, Pokdarwis Kampung Melayu terus mendorong pengembangan wisata religi dan wisata heritage yang berbasis pada kawasan cagar budaya. Beberapa situs bersejarah yang menjadi fokus pengembangan antara lain Klenteng Kam Hok Bio, Masjid Menara Layur, serta kawasan omah lawas yang memiliki nilai sejarah tinggi.
“Untuk Masjid Menara Layur dan klenteng, saat ini sudah kami usulkan ke Balai Pelestarian Kebudayaan. Namun, hingga kini belum ada tindak lanjut detail terkait rencana renovasi,” ujarnya.
Selain itu, terdapat bangunan omah lawas yang merupakan rumah keturunan etnis Banjar. Meski kondisinya tidak seperti masa lampau, keaslian bangunan tersebut masih terjaga dan menjadi bagian penting dari narasi sejarah Kampung Melayu.
“Ini menjadi salah satu upaya kami dalam menjaga dan memperkenalkan warisan budaya Kampung Melayu agar tetap lestari dan memiliki nilai wisata yang berkelanjutan,” pungkas Suparji.(msa)
