Piru,CahayaMediaTimur.com-Ancaman PT. SIM untuk hengkang dari Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB) per 30 September 2025 terbukti hanya gertakan. Hingga memasuki 1 Oktober, tidak ada tanda-tanda kepergian perusahaan tersebut, sebab masih menunggu hasil pertemuan dengan Gubernur Maluku. Fakta ini kian menguatkan bahwa ancaman penutupan hanyalah drama murahan untuk menekan pemerintah sekaligus mempermainkan rakyat.
Lebih parah lagi, sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, dokumen yang beredar menunjukkan bahwa lahan masyarakat yang digunakan PT. SIM bukanlah kontrak, melainkan pelepasan hak bernilai miliaran rupiah. Hal ini berarti tanah leluhur warga telah dilepaskan dengan cara yang sarat tanda tanya dan patut dipertanyakan keabsahannya.
Tokoh muda SBB, Mozes Rutumalessy, kembali angkat suara dengan nada keras.
“Kalau benar PT. SIM mau keluar, kenapa sampai hari ini masih bertahan? Jangan banyak sandiwara! Saya tegaskan kepada Bapak Asri Arman, selaku Bupati Seram Bagian Barat, berpihaklah kepada rakyat. Rakyat jauh lebih penting dari perusahaan manapun. Dan kami siap berdiri membela Bapak dari segala bentuk tekanan atau ancaman,” kata Mozes.
Mozes juga menegaskan, masyarakat SBB tidak akan jatuh miskin jika PT. SIM hengkang.
“Kalau PT. SIM keluar, masyarakat SBB tidak akan jatuh miskin. Selama ini tidak ada untungnya juga bagi daerah, yang ada hanya konflik di sana-sini. Jadi, jangan coba menakut-nakuti rakyat dengan ancaman keluar dari SBB,” tegasnya.
Lebih lanjut, ia mempertanyakan nasib lahan warga yang sudah dilepaskan dengan nilai miliaran rupiah.
“Saya yakin PT. SIM tidak akan keluar dari SBB. Tapi kalaupun benar-benar angkat kaki, bagaimana dengan lahan warga yang sudah diambil? Itu bukan kontrak, itu pelepasan hak! Jangan sampai rakyat dirampas lalu ditinggalkan begitu saja,” ujarnya.
Mozes juga mengingatkan Gubernur Maluku, Hendrik Lewerissa, agar tidak terlalu ikut campur dalam urusan ini.
“Saya tegaskan kepada Bapak Gubernur, jangan mengambil langkah yang membutakan mata hati! PT. SIM sama sekali tidak memberi manfaat bagi rakyat SBB. Dan kalau pun perusahaan itu tutup, daerah ini tidak akan bangkrut. Jika Bapak tetap memaksakan perusahaan ini harus jalan, silakan carikan lahan di kabupaten lain, asal jangan lagi di tanah SBB!” pungkasnya.
Hingga kini, publik masih menunggu hasil pertemuan antara Pemerintah Provinsi Maluku dan pihak perusahaan untuk memastikan apakah PT. SIM benar-benar akan meninggalkan SBB atau tetap beroperasi. Sementara itu, kegelisahan warga terus berlanjut, menanti kepastian yang hingga kini tak kunjung datang.





