Wahai,CahayaMediaTimur.com-Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus hadirkan pembinaan yang berorientasi pada pengembangan intelektual Warga Binaan melalui penguatan budaya literasi. Salah satu langkah konkret yang dilakukan yakni rotasi koleksi buku perpustakaan untuk menghadirkan bacaan yang lebih variatif dan relevan, Rabu (28/1).
Rotasi buku perpustakaan ini meliputi penambahan serta penukaran berbagai koleksi bacaan, mulai dari buku keagamaan, keterampilan, motivasi, hingga pengetahuan umum. Pembaruan koleksi dilakukan untuk menjaga minat baca Warga Binaan sekaligus memperluas wawasan selama menjalani masa pidana.
Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan bahwa literasi merupakan bagian penting dari pembinaan kepribadian. Menurutnya, buku menjadi sarana refleksi sekaligus media pembelajaran yang dapat membentuk pola pikir positif.
“Kami ingin memastikan Warga Binaan mendapatkan akses bacaan yang berkualitas dan tidak monoton. Dengan rotasi buku perpustakaan ini, kami berharap minat baca semakin meningkat dan mampu membentuk pola pikir yang lebih baik serta produktif,” ujarnya.
Hal senada disampaikan Kepala Subseksi Pembinaan Lapas Wahai, Merpaty S. Mouw, yang menyebut program literasi sebagai bagian dari pembinaan berkelanjutan di Lapas Wahai. Perpustakaan dimanfaatkan sebagai ruang belajar yang inklusif dan terbuka bagi seluruh Warga Binaan.
“Rotasi buku ini kami lakukan secara berkala agar Warga Binaan tidak jenuh. Literasi merupakan pondasi penting dalam pembinaan karena dapat membangun karakter, menambah pengetahuan, dan menumbuhkan harapan baru,” jelasnya.
Program ini mendapat respons positif dari Warga Binaan. Salah satunya AD, yang mengaku merasakan manfaat langsung dari pembaruan koleksi bacaan.
“Dengan adanya buku-buku baru, kami jadi lebih semangat membaca. Banyak pelajaran yang bisa kami ambil, terutama tentang pengembangan diri dan keagamaan. Ini sangat membantu kami untuk berubah menjadi lebih baik,” ungkapnya.
Sementara itu, Kepala Kantor Wilayah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan Maluku, Ricky Dwi Biantoro, memberikan apresiasi atas upaya penguatan literasi yang dilakukan Lapas Wahai. Ia menilai langkah tersebut sejalan dengan kebijakan Pemasyarakatan yang menitikberatkan pada pembinaan dan reintegrasi sosial.
“Apa yang dilakukan Lapas Wahai merupakan implementasi pembinaan berbasis literasi. Kami mendorong seluruh UPT Pemasyarakatan untuk terus berinovasi agar Warga Binaan memiliki bekal pengetahuan dan karakter positif saat kembali ke masyarakat,” tegasnya.
Melalui rotasi koleksi buku perpustakaan ini, Lapas Wahai berharap budaya membaca dapat tumbuh secara berkelanjutan, sehingga proses pembinaan tidak hanya berfokus pada kedisiplinan, tetapi juga pada pengembangan intelektual dan mental Warga Binaan.






