Wahai,CahayaMediaTimur.com-Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Kelas III Wahai terus tingkatkan hak pelayanan kerohanian yang adil bagi seluruh Warga Binaan tanpa terkecuali. Pendekatan spiritual ini dihadirkan untuk menyentuh aspek moral dan mental, sekaligus membentuk karakter Warga Binaan agar siap kembali menjadi pribadi yang taat hukum dan bermanfaat di tengah masyarakat.
Digelar secara khidmat pada Kamis (23/7) malam di Masjid At-Taubah, Yasinan malam Jumat diikuti antusias Warga Binaan Muslim untuk membaca Surah Yasin dan berdoa bersama. Pun halnya ibadah virtual Kristen dilaksanakan pada Jumat (24/7) pagi dengan memanfaatkan fasilitas teknologi bagi Warga Binaan Kisten untuk mengikuti kebaktian dan doa bersama secara virtual di Gereja Ebenhaezer.
Seluruh rangkaian kegiatan rohani tersebut berlangsung dalam suasana kondusif, tertib, dan mendapatkan pengawalan humanis dari jajaran petugas pengamanan. Pembinaan kerohanian ini mendapatkan apresiasi langsung dari unsur pembinaan hingga para Warga Binaan yang merasakan ketenangan batin selama menjalani masa pidana.
Kepala Subseksi Pembinaan, La Joi, menyampaikan program keagamaan ini merupakan bentuk pemenuhan hak dasar yang esensial. “Kami berupaya merawat mental kerohanian Warga Binaan secara berimbang. Pendekatan humanis ini terbukti efektif dalam meredam kejenuhan dan membangun kedisiplinan moral mereka,” ujarnya.
Salah satu Warga Binaan Muslim, AG, mengungkapkan Yasinan malam Jumat memberikan ketenangan batin baginya. “Di sini kami belajar untuk merenungi kesalahan masa lalu dan menata niat kuat untuk berubah menjadi lebih baik,” tuturnya.
Senada, salah satu Warga Binaan Kristen, RK, turut mengutarakan mengenai ibadah virtual yang mereka ikuti. “Meskipun berada di Lapas, fasilitas ibadah virtual ini membuat kami tetap merasakan kehadiran Tuhan dan dikuatkan dalam pengharapan baru,” katanya.
Terpisah, Kepala Lapas Wahai, Tersih Victor Noya, menegaskan pembinaan kepribadian berbasis keagamaan adalah fondasi utama Pemasyarakatan. “Kami ingin memastikan Lapas tidak hanya menjadi tempat menjalani hukuman, melainkan ruang pemulihan jiwa yang humanis. Alhamdulillah, Puji Tuhan, seluruh kegiatan berjalan aman terkendali berkat sinergi petugas dan kedisiplinan Warga Binaan. Mari kita jaga dan jalin hubungan ini untuk Lapas Wahai yang makin humanis dan religius,” ajaknya.
Komitmen Lapas Wahai dalam menyelenggarakan pembinaan spiritual yang adil dan inklusif ini membuktikan tembok penjara bukanlah penghalang untuk memulihkan martabat manusia. Melalui pendekatan humanis dan berlandaskan nilai-nilai keagamaan, Lapas Wahai menegaskan perannya bukan sekadar tempat penjeratan hukum, melainkan mencetak insan-insan baru dan pribadi yang tidak hanya taat hukum, tetapi juga siap kembali melangkah di tengah masyarakat dengan jiwa yang utuh dan beriman.






