Gagal Ciptakan Stabilitas Keamanan di Dusun,Papalia dan Bufakar di Soroti Warganya Sendiri 

oleh -0 views

TanahGoyang,CahayaMediaTimur.com-Kepemimpinan Kepala Dusun Tanah Goyang, Jusmin Papalia, dan Sekretaris Dusun, Rafli Bufakar, kembali menjadi sorotan setelah rentetan konflik yang terjadi dalam kurun waktu singkat sejak keduanya menjabat di Dusun Tanah Goyang, Desa Loki, Kecamatan Huamual, Kabupaten Seram Bagian Barat (SBB), Provinsi Maluku.

 

Sorotan tersebut disampaikan oleh salah satu pemuda Dusun Tanah Goyang, Aldi Japan, S.Sos., kepada awak media di depan Markas Polres Seram Bagian Barat, Kamis 4 Juni 2026. Menurut Aldi, baru sekitar 73 hari Jusmin Papalia dan Rafli Bufakar menjalankan roda pemerintahan dusun, namun wilayah tersebut telah dua kali dilanda konflik yang menimbulkan korban luka serta dampak sosial yang serius.

 

“Menurut penilaian saya, kepemimpinan Jusmin Papalia dan Rafli Bufakar belum mampu membawa Dusun Tanah Goyang ke arah yang lebih baik.

 

Dalam waktu yang sangat singkat, masyarakat sudah dua kali dihadapkan pada konflik yang merugikan banyak pihak,” ujar Aldi.

 

Aldi menjelaskan, konflik pertama terjadi tidak lama setelah Jusmin Papalia menerima Surat Keputusan (SK) pengangkatan sebagai Kepala Dusun. Bahkan, menurutnya, belum genap satu hari menjabat, Dusun Tanah Goyang sudah terlibat perselisihan dengan Dusun Ani.

 

Meski konflik tersebut akhirnya berhasil diselesaikan melalui mediasi yang difasilitasi oleh Polres Seram Bagian Barat, sejumlah warga dari kedua wilayah dilaporkan mengalami luka-luka akibat insiden tersebut.

 

Belum pulih sepenuhnya dari peristiwa pertama, Dusun Tanah Goyang kembali dihadapkan pada konflik kedua yang terjadi pada Sabtu, 30 Mei 2026. Peristiwa tersebut melibatkan sejumlah pemuda dari Desa Ariate dan warga Dusun Tanah Goyang.

 

Akibat bentrokan itu, sejumlah warga dari kedua belah pihak mengalami luka-luka dan beberapa korban dilaporkan harus mendapatkan perawatan medis di rumah sakit. Hingga kini, kasus tersebut masih dalam penanganan Polres Seram Bagian Barat.

 

Menurut Aldi, dampak dari konflik yang terjadi tidak hanya menimbulkan korban fisik, tetapi juga menyeret sejumlah pemuda Dusun Tanah Goyang ke dalam proses hukum.

 

“Yang sangat memprihatinkan adalah bukan hanya korban luka yang harus ditanggung masyarakat.

 

Sejumlah pemuda Dusun Tanah Goyang saat ini juga sedang diamankan dan menjalani proses pemeriksaan di Polres SBB. Kondisi ini tentu menjadi beban berat bagi keluarga mereka,” katanya.

 

Aldi menilai rentetan peristiwa tersebut menunjukkan adanya kelemahan dalam kepemimpinan dan pengelolaan keamanan serta ketertiban masyarakat di tingkat dusun.

 

“Dalam kurun waktu 73 hari, dua kali konflik besar terjadi. Ini harus menjadi bahan evaluasi serius. Pemimpin seharusnya mampu menciptakan suasana yang aman, damai, dan kondusif bagi masyarakat, bukan justru membiarkan kondisi yang berpotensi memicu konflik berulang,” tegasnya.

 

Ia berharap seluruh pihak, termasuk pemerintah desa dan aparat penegak hukum, dapat mengambil langkah-langkah strategis untuk mencegah terulangnya peristiwa serupa serta menjaga stabilitas keamanan di Dusun Tanah Goyang dan wilayah sekitarnya.

 

Sementara itu, hingga berita ini diturunkan, belum terdapat keterangan resmi dari Jusmin Papalia maupun Rafli Bufakar.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

No More Posts Available.

No more pages to load.